NUO Luncurkan NUO Writing Lab & Pengumuman Juara Sayembara Penulisan Artikel Pemikiran Nasaruddin Umar
NUO Luncurkan NUO Writing Lab & Pengumuman Juara Sayembara Penulisan Artikel Pemikiran Nasaruddin Umar
Direktorat Media NUO
18 May 2026
2
Berawal dari semangat membuka ruang belajar kepenulisan yang berkelanjutan dan memberikan pembekalan praktis mengenai penulisan yang inspiratif, argumentatif, serta layak dipublikasikan, Nasaruddin Umar Office (NUO) resmi meluncurkan program NUO Writing Lab yang berlangsung secara daring pada Jumat (15/5/2026).
Peluncuran ini juga dirangkaikan dengan pengumuman pemenang Sayembara Penulisan Artikel Pemikiran Nasaruddin Umar yang berkolaborasi dengan Ibihtafsir dan dilanjutkan workshop kepenulisan oleh Ahmad Fuadi, Penulis Negeri 5 Menara, dan Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., M.A., Ph.D., Guru Besar Bidang Antropologi Agama UIN Alauddin Makassar.
Sebanyak 98 artikel terpilih akan dimuat dalam buku bunga rampai serta dipublikasikan melalui situs web NUO dan Ibihtafsir. Para penulis terbaik juga mendapatkan apresiasi berupa hadiah dan kesempatan pengembangan kepenulisan lebih lanjut.
“NUO adalah rumah bagi gagasan-gagasan besar Anregurutta Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Acara ini merupakan gagasan bersama antara NUO dan Ibihtafsir. Alhamdulillah, ada 151 artikel yang masuk, dan 98 artikel akan dimuat dalam buku bunga rampai serta diterbitkan di website Ibihtafsir dan NUO,” ujar Dr. Abdul Muid Nawawi, M.A., Founder Ibihtafsir.
Dalam kesempatan tersebut, Direktur Eksekutif NUO, apt. Andi Ahmad, S.Farm., menjelaskan bahwa NUO Writing Lab dihadirkan sebagai ruang belajar dan kolaborasi untuk melahirkan generasi penulis yang membawa pemikiran mencerahkan dan moderat.
“NUO Writing Lab diharapkan menjadi ruang belajar dan kolaborasi bagi generasi muda, akademisi, santri, mahasiswa, dan masyarakat luas untuk membangun tradisi literasi dan kepenulisan yang kuat. Kami percaya perubahan besar dimulai dari gagasan, dan gagasan hidup melalui tulisan. Workshop ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi diharapkan mampu melahirkan para penulis dengan pemikiran yang mencerahkan, moderat, dan membawa manfaat bagi bangsa,” jelasnya.
Acara yang diinisiasi oleh Direktorat Riset dan Analisis Kebijakan NUO tersebut turut menghadirkan Founder NUO, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Dalam sambutannya, ia menekankan betapa mulianya tradisi menulis dalam ajaran Islam.
“Mari kita mempromosikan profesi yang sangat mulia yaitu penulis. Karena di dalam Al-Qur’an disebutkan dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1: Iqra’ bismi rabbikalladzi khalaq. Iqra’ sangat melekat dengan aktivitas membaca dan menulis. Kemudian dalam Surah Al-Qalam ayat 1: Nun wal qalami wa maa yasthurun. Ayat ini juga mengajak kita untuk menulis,” ujarnya.
Adapun para juara dalam sayembara penulisan tersebut antara lain:
1. Abdul Mufid (Institut Agama Islam Khozinatul Ulum Blora) dengan artikel Ekoteologi Bukan Tempelan: Menafsir Ulang Relasi Manusia dan Alam dalam Horizon Pemikiran Nasaruddin Umar dan Deklarasi Istiqlal
2. Ahmadi Fathurrohman Dardiri (UIN Raden Mas Said Surakarta) dengan artikel Nasaruddin Umar Menghadirkan Rumah Ramah bagi Muslimah
3. Nurrochman (Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dengan artikel Dari Ekoteologi ke Eco-Masjid: Gagasan Spiritualisme Hijau Nasaruddin Umar dalam Menjawab Krisis Lingkungan
4. Wira Syuhada (Universitas PTIQ Jakarta) dengan artikel Membaca Tuhan dengan Bahasa Rahim: Tafsir Sufistik Nasaruddin Umar dan Teologi Kasih yang Tak Bertuan Kelamin
5. Randi Alipullah (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta) dengan artikel Peran dan Posisi Ekoteologi Nasaruddin Umar dalam Wacana Hukum dan Filsafat Lingkungan
Ke depan, NUO Writing Lab diharapkan dapat menjadi ruang pengembangan literasi yang tidak hanya melahirkan penulis produktif, tetapi juga menghadirkan gagasan-gagasan reflektif, moderat, dan relevan bagi perkembangan masyarakat Indonesia.
Melalui tradisi menulis, kita semua bercita-cita akan lahir generasi yang mampu merawat ilmu, memperkuat budaya dialog, dan menghadirkan pemikiran yang mencerahkan bagi masa depan bangsa.