Bagaimana Rasulullah SAW dan Pendidikan Ekoteologi Mengajarkan Kita Menjaga Bumi?
Bagaimana Rasulullah SAW dan Pendidikan Ekoteologi Mengajarkan Kita Menjaga Bumi?
Direktorat Media NUO
07 May 2026
3
Sampai hari ini, kita selalu berikrar mengingat dan menyebut nama Rasulullah SAW di dalam dzikir dan shalat. Namun, pernahkah kita bertanya di dalam hati, bagaimana beliau memperlakukan alam sebagai amanah dari Allah SWT?
Jauh sebelum isu krisis lingkungan marak terjadi seperti sekarang, Rasulullah SAW telah mengajarkan pentingnya menjaga dan merawat lingkungan. Tidak hanya menekankan hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesama manusia, tetapi juga hubungan dengan alam.
Bukan semata demi keindahan, menjaga lingkungan adalah bentuk tanggung jawab kita sebagai khalifah di muka bumi untuk merawat ciptaan Allah SWT dan memastikan keberlangsungan kehidupan bagi generasi mendatang.
Lantas, seperti apa hikmah dan teladan Rasulullah SAW dalam menjaga bumi yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari? Simak selengkapnya dalam artikel ini.
Amanah dalam Menjaga Alam
Islam menaruh perhatian besar terhadap aktivitas menjaga dan menanam lingkungan. Melansir situs nu.or.id, dalam kitab At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif karya Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, tercatat sejumlah hadis Rasulullah SAW mengenai pentingnya merawat alam.
Pertama, penanaman pohon bernilai sedekah bagi yang menanam.
عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَمَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةٌ وَلاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
Artinya, “Dari sahabat Jabir ra, ia berkata, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon kecuali apa yang dimakan bernilai sedekah, apa yang dicuri juga bernilai sedekah. Tiada pula seseorang yang mengurangi buah (dari pohon-)nya melainkan akan bernilai sedekah bagi penanamnya sampai hari Kiamat,’” (Imam Zakiyuddin Abdul Azhim Al-Mundziri, At-Targhib wat Tarhib minal Haditsisy Syarif, [Beirut, Darul Fikr: 1998 M/1418 H], juz III, halaman 304).
Kedua, pahala sedekah mengalir bagi yang hasil tanamnya dinikmati manusia, ternak, dan burung.
وفي رواية لاَ يَغْرِسُ المُسْلِمُ غَرْسًا فَيَأْكُلَ مِنْهُ إِنْسَانٌ وَلَا دَابَّةٌ وَلَا طَيْرٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةٌ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ
Artinya, “Dari sahabat Jabir ra, Rasulullah saw bersabda, ‘Tiada seorang muslim yang menanam pohon, lalu buahnya dimakan oleh seseorang, hewan ternak, atau burung, kecuali itu akan bernilai sedekah sampai hari Kiamat.’”
Ketiga, Rasulullah SAW mengumumkan pahala sedekah bagi yang hasil tanamnya dimakan ternak.
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلَّا كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ
Artinya: ’’Tidaklah seorang Muslim yang menanam tanaman atau bertani, lalu ia memakan hasilnya atau orang lain dan binatang ternak yang memakan hasilnya, kecuali semua itu dianggap sedekah baginya.” (HR Bukhari, No 2320)
Dari hadis-hadis tersebut, kita dapat memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar pilihan sosial, tetapi bagian dari ajaran spiritual yang memiliki nilai pahala di sisi Allah SWT.
Ketika Orang Berlomba Mengabaikan Alam
Namun realitas hari ini justru menunjukkan hal yang sebaliknya. Pembalakan liar, penggunaan plastik berlebihan, pemborosan energi, hingga eksploitasi hutan secara ilegal masih terus terjadi.
Riset Global Change Biology mencatat lebih dari 6 juta hektare hutan primer hilang dalam periode 2000–2012. Angka ini menjadi pengingat bahwa kerusakan lingkungan bukan lagi ancaman masa depan, melainkan krisis yang sedang berlangsung.
Ketika kepentingan pribadi dan keuntungan ekonomi mengalahkan kepentingan menjaga bumi, maka yang lahir adalah degradasi lingkungan yang perlahan merusak kehidupan manusia itu sendiri.
Dampaknya tidak hanya berupa banjir, polusi udara, atau perubahan iklim, tetapi juga hilangnya keseimbangan ekologi yang selama ini menopang kehidupan bersama.
Di sinilah kita membutuhkan kesadaran yang lebih dalam: bahwa merusak alam sejatinya juga berarti merusak amanah yang telah Allah SWT titipkan kepada manusia.
Pendidikan Ekoteologi untuk Kehidupan Sehari-hari
Karena itu yang kita perlukan hari ini bukan hanya upaya pencegahan kerusakan lingkungan, tetapi juga membangun kesadaran spiritual dalam merawat bumi melalui pendekatan yang dikenal sebagai ekoteologi.
Ekoteologi merupakan pemahaman bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tugas ekologis, tetapi juga tanggung jawab keagamaan manusia sebagai khalifah di muka bumi.
Sejalan dengan pendekatan yang dikembangkan oleh Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, konsep ini menempatkan cinta lingkungan sebagai bagian dari moderasi beragama dan nilai moral dalam kehidupan sehari-hari.
Artinya, menjaga bumi dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana: mengurangi sampah plastik, menghemat air dan listrik, menanam pohon, hingga membiasakan hidup yang lebih ramah lingkungan.
Pendidikan ekoteologi juga mengajarkan bahwa ibadah tidak hanya berbentuk ritual, tetapi juga kepedulian terhadap keberlangsungan alam dan kehidupan.
Mari mulai dari langkah kecil dalam kehidupan sehari-hari. Karena bumi yang lestari tidak lahir dari satu tindakan besar, melainkan dari kepedulian kecil yang dilakukan secara terus-menerus.
Search here
Recent Post
-
Sudahkah Kita Mendidik dan Belajar dengan Cinta?
- 04 May 2026