Memberi Salam Kepada Nonmuslim: Ini yang harus Kita Pahami
Memberi Salam Kepada Nonmuslim: Ini yang harus Kita Pahami
Direktorat Media NUO
08 May 2026
2
Memberi salam sangat dianjurkan diberikan kepada sesama yang beragama Islam, tak terkecuali bagi teman atau saudara kita yang berbeda keyakinan. Sebagai negara yang penuh keragaman, kita melihat ini sebagai warna dalam beragama.
Meski dipenuhi pembahasan soal kontroversi hukum memberi salam kepada yang berbeda keyakinan, ada yang memperbolehkan, ada juga yang tidak memperbolehkan, maka ada satu pilihan yang dapat kita lakukan.
Sikap tersebut bukan berarti mencampuradukkan keyakinan, melainkan menjaga persaudaraan, menghormati sesama manusia, dan merawat persatuan di tengah masyarakat yang majemuk.
Bagaimana Islam memandang hal ini? Dan seperti apa hikmah yang dapat kita ambil dari budaya saling memberi salam kepada siapa pun? Mari kita simak selengkapnya dalam artikel ini.
Kedudukan Salam bagi Nonmuslim
Di masa Rasulullah SAW, terdapat beberapa riwayat yang menjelaskan bagaimana adab dan sikap beliau ketika berinteraksi dengan nonmuslim, termasuk dalam menjaga hubungan sosial dan silaturahmi.
Salah satunya adalah kisah Asma’ binti Abu Bakar yang bertanya kepada Nabi Muhammad SAW ketika ibunya datang berkunjung dalam keadaan masih nonmuslim. Rasulullah SAW pun menjawab dengan penuh kelembutan:
“Sambutlah ibumu dan bersilaturrahimlah dengannya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Pada riwayat lain dikisahkan ‘Aisyah ra. menceritakan sekolompok Yahudi datang kepada Nabi Muhammad SAW, lalu mereka mengatakan, “Assamu ‘alaikum,” (kebinasaan atasmu), lalu ‘Aisyah ra. menjawab, “Wa’alaikum as-sam wa al-la’nah,” (atasmu juga kebinasaan dan juga laknat).
Sontak, Nabi Muhammad SAW yang mendengar perkataan istrinya tersebut menegurnya dengan lembut dan memberitahu bahwa Allah SWT sangat menyukai kelembutan dalam setiap lika-liku kehidupan.
“Pelan-pelan wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah SWT menyukai kelembutan dalam setiap perkara.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Dalil yang Menjelaskan Soal Memberi Salam
Jika kita menelusuri lebih jauh tentang dalil-dalil memberi atau menjawab salam kepada nonmuslim, Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai? Jawab mereka, ‘Baik ya Rasulullah,’ beliau bersabda, ‘Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).
Sejalan dengan hadis di atas, Allah SWT berfirman di dalam QS. An-Nisa ayat 86 tentang membalas suatu salam penghormatan dengan nilai kebaikan yang sama.
وَاِذَا حُيِّيْتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوْا بِاَحْسَنَ مِنْهَآ اَوْ رُدُّوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيْبًا
Artinya: “Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan (salam), balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik daripadanya atau balaslah dengan yang sepadan. Sesungguhnya Allah Maha Memperhitungkan segala sesuatu.”
Karena itu, memberi salam atau sapaan umum kepada nonmuslim seperti “selamat pagi”, “selamat siang”, atau bentuk penghormatan sosial lainnya pada dasarnya tidak menjadi persoalan dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara untuk salam yang bersifat khusus dan identik dengan simbol keagamaan, para ulama memiliki perbedaan pendapat. Ada yang membolehkan dalam konteks sosial dan kebangsaan, ada pula yang memilih untuk membatasinya.
Beberapa ulama seperti Ibn Al-Qayyim, Imam Al-Qurtubi, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, dan Yusuf Al-Qardhawi termasuk yang membolehkan memberi salam kepada nonmuslim dalam konteks menjaga hubungan baik dan kemaslahatan sosial.
Barangkali sudah saatnya kita tidak hanya sibuk memperdebatkan cara memberi salam, tetapi juga mulai bertanya pada diri sendiri: apakah ucapan dan sikap kita sudah benar-benar menghadirkan kedamaian, kasih sayang, dan akhlak yang dicontohkan Rasulullah SAW?
Search here
Recent Post
-
Sudahkah Kita Mendidik dan Belajar dengan Cinta?
- 04 May 2026