Mencari Keadilan Buruh: Ketika Masalah Ekonomi Berubah jadi Krisis Moral
Mencari Keadilan Buruh: Ketika Masalah Ekonomi Berubah jadi Krisis Moral
Direktorat Media NUO
28 Apr 2026
2
Peringatan Hari Buruh dari tahun ke tahun tidak jauh dari persoalan angka: upah, jam kerja, dan produktivitas. Namun, siapa sangka di balik itu, ada manusia yang bekerja dengan lelah, berharap hidup yang lebih layak, dan berjuang mempertahankan martabatnya.
Tidak sedikit pekerja menghadapi ketidakadilan, mulai dari upah yang tidak sebanding dengan beban kerja dan ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) yang terjadi secara tiba-tiba menambah ketidakpastian hidup para pekerja. Dalam situasi seperti ini, buruh kerap dipandang sekadar sebagai bagian dari sistem produksi, dan tidak memiliki nilai serta kehormatan.
Apakah keadilan bagi buruh cukup diwujudkan hanya dengan memperbaiki angka dan kebijakan semata, atau justru perlu dimulai dari perbaikan moral dalam sistem kerja serta pemahaman kembali nilai-nilai agama dalam memandang sesama manusia?
Mari kita telusuri lebih dalam bagaimana agama memandang keadilan bagi buruh, dan mengapa persoalan ini sejatinya bukan hanya isu ekonomi, melainkan juga krisis moral dalam kehidupan kita!
Isu PHK dan Ketidakpastian Pekerja
Para pekerja dunia tak terkecuali di Indonesia menghormati perjuangan dan jasa para pekerja dalam mencapai hak-hak bekerja yang jatuh setiap 1 Mei. Hari Buruh atau yang dikenal sebagai May Day, bermula di Amerika Serikat pada akhir abad ke-19 untuk memperjuangkan waktu kerja, gaji, serta kondisi kerja yang lebih baik.
Sejak saat itu, peringatan Hari Buruh seolah menjadi pengingat bagi pemangku kebijakan baik pemerintah dan perusahaan bahwa para pekerja berhak mendapatkan fasilitas, upah kerja, jam kerja, dan apresiasi yang layak.
Berdasarkan situs Satudata oleh Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia (Kemnaker RI) terkait tenaga kerja ter-PHK periode Januari-Agustus tahun 2025, tercatat angka PHK pada periode tersebut mencapai 66.651 orang.
Data tersebut mencerminkan bahwa ketidakpastiaan kerja masih menjadi bayang-bayang ironi pekerja. PHK bukan hanya soal kehilangan pekerjaan, tetapi juga berdampak pada aspek penting perekonomian keluarga, kesehatan mental, dan masa depan para pekerja itu sendiri.
Persoalan juga tidak berhenti pada angka PHK, tetapi juga menyoroti sistem kerja yang membebani pekerja. Mulai dari upah mininum yang tak layak, jam kerja yang panjang, ketidakpastian kontrak kerja, target kerja yang tidak realitis, dan minimnya apresiasi di balik kata kerja keras.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan tidak hanya berkaitan dengan tata aturan atau sistem kerja, tetapi juga menyentuh aspek keadilan dan pentingnya sikap memanusiakan sesama manusia.
Memanusiakan Manusia dalam Dunia Kerja
Dalam ajaran agama, kita diingatkan untuk selalu berbuat baik antarsesama. Kebaikan tidak hanya terlihat dari tutur kata atau sikap yang tidak menyakiti, tetapi juga dari cara kita memandang dan memanusiakan manusia sebagai makhluk yang bermartabat.
Islam secara tegas menempatkan manusia di dalam posisi yang mulia. Allah SWT berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ
Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70)
Selain itu, Allah SWT juga memerintahkan:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
Artinya: “Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS. Al-Ma’idah: 2)
Ayat-ayat tersebut mencerminkan hubungan antarsesama, terlebih di dalam lingkup kerja sudah semestinya dibangun atas dasar kepedulian, keadilan, tanggung jawab moral, bukan semata kepentingan.
Namun, realitas yang terjadi tidak sedikit praktik di dunia kerja yang justru menampakkan kezaliman. PHK sepihak tanpa pemberitahuan sebelumnya, hingga keputusan yang kurang adil, dan banyaknya penyalahgunaan kekuasaan yang membuat nilai keadilan belum sepenuhnya dihadirkan.
Padahal, kezaliman adalah persoalan moral. Ketika ada pekerja yang diperlakukan tidak baik pada tempatnya, di situlah esensi kemuliaan manusia dipertanyakan.
Refleksi: Tumbuhnya Keadilan dari dalam Diri
Di titik ini, di peringatan Hari Buruh, penting bagi kita untuk melihat persoalan ketenagakerjaan bukan hanya dari luar, tetapi juga melakukan refleksi ke dalam diri.
Apakah kita pernah dengan atau tanpa sengaja menormalisasi ketidakadilan, meski bentuknya kecil? Atau pernahkah kita terdiam saat melihat praktik yang merugikan rekan sesama pekerja? Pertanyaan ini menjadi pengingat bahwa keadilan dapat tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, dan juga di tempat kerja.
Menegakkan keadilan di dunia kerja adalah bentuk ibadah. Ibadah yang menghargai sesama sebagai wujud keimanan, dan merawat kemanusiaan sudah semestinya menjadi tugas kita sebagai khalifah di muka bumi.
Mari sebarkan selalu semangat nilai-nilai agama yang tercermin dalam dunia kerja. Bukan untuk memperlihatkan seberapa tinggi keimanan kita, melainkan fondasi untuk menjaga kehidupan yang adil, bermartabat, dan saling menjunjung kehormatan antarumat manusia.