Mewaspadai Kezaliman Intelektual dan Dampaknya dalam Kehidupan
Mewaspadai Kezaliman Intelektual dan Dampaknya dalam Kehidupan
Direktorat Media NUO
24 Apr 2026
3
Mengapa kedudukan ilmu dan orang yang berilmu begitu mulia? Dalam Al-Qur’an, iman dan amal saleh sering disebut beriringan. Keduanya menjadi fondasi kebaikan dalam kehidupan manusia.
Namun, bayangkan jika seseorang memiliki semangat beragama tanpa dibarengi dengan ilmu yang cukup. Hal ini justru berpotensi melahirkan amal sayyi’ah atau perbuatan yang keliru. Di sinilah muncul fenomena yang disebut sebagai kezaliman intelektual.
Misalnya, seseorang yang menggunakan dalil agama secara sepotong-sepotong untuk membenarkan kepentingan pribadi, menyebarkan informasi keagamaan tanpa pemahaman yang utuh, atau memanfaatkan ilmu untuk menyerang dan merendahkan pihak lain. Praktik seperti ini semakin mudah ditemukan, terutama di era digital.
Oleh karena itu, sebagai Muslim, kita tidak hanya dituntut untuk menuntut ilmu, tetapi juga mengiringinya dengan keimanan, akhlak, dan tanggung jawab moral dalam mengamalkan ilmu tersebut.
Lalu, apa yang dimaksud dengan kezaliman intelektual dan bagaimana cara mengenalinya? Artikel ini akan mengulas ciri-ciri serta pentingnya menggunakan ilmu dengan benar.
Ciri-Ciri Kezaliman Intelektual
Setidaknya, kezaliman intelektual dapat dikenali melalui beberapa bentuk berikut:
Pertama, memiliki ilmu tetapi enggan mengajarkannya. Sikap ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga menutup akses orang lain untuk mendapatkan manfaat dari ilmu tersebut.
Kedua, merasa terancam dengan kehadiran orang lain yang lebih berilmu. Seseorang menjadi khawatir tidak lagi diapresiasi, bahkan cenderung iri ketika melihat orang lain berkembang.
Ketiga, menyalahgunakan ilmu untuk kepentingan duniawi, seperti kekuasaan, harta, atau popularitas. Ilmu dijadikan alat untuk membenarkan segala cara, bukan sebagai jalan menuju kebaikan.
"Barang siapa yang ditanya mengenai suatu ilmu dan ia menyembunyikannya, maka Allah akan memasukkan tali kekang dari api ke dalam mulutnya pada hari kiamat." (HR Abu Daud).
Hadis ini menjadi peringatan bahwa ilmu bukan untuk disimpan demi kepentingan pribadi, melainkan untuk disebarkan dan dimanfaatkan secara benar.
Keutamaan Orang Berilmu dengan Cara yang Benar
Dalam sebuah buku berjudul Inilah Rasulullah SAW yang ditulis oleh Salman Al-Audah yang mengutip riwayat dari Abu Darda’ RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Siapa yang meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkannya jalan ke surga. Sesungguhnya para malaikat merendahkan sayapnya sebagai tanda ridha bagi penuntut ilmu.”
Hadis tersebut menerangkan bahwa menuntut ilmu adalah jalan mulia yang tidak hanya membawa manfaat di dunia, tetapi juga menjadi sebab kemudahan menuju akhirat.
Ketika ilmu diperoleh dengan cara yang benar, jujur, sungguh-sungguh, dan diniatkan karena Allah maka ilmu tersebut akan melahirkan kebijaksanaan, ketenangan, serta manfaat bagi banyak orang.
Sebaliknya, jika ilmu diperoleh atau digunakan dengan cara yang tidak baik, dipenuhi ambisi, kesombongan, atau kepentingan pribadi maka ilmu tersebut justru dapat menyesatkan diri sendiri dan merugikan orang lain.
Kezaliman intelektual adalah bentuk penyimpangan dalam menggunakan ilmu. Ia tidak selalu terlihat secara kasat mata, tetapi dampaknya bisa sangat besar dalam kehidupan sosial dan keagamaan.
Karena itu, penting bagi kita untuk tidak hanya mengejar ilmu, tetapi juga menjaga niat, akhlak, dan tanggung jawab dalam mengamalkannya. Ilmu yang benar adalah ilmu yang membawa kebaikan, menumbuhkan kerendahan hati, dan mendekatkan kita kepada Allah SWT.