Search Now!
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us

Saat Gagasan Bertemu Aksi, NUO Siapkan Generasi Rukun Bagi Generasi Muda

Images

Saat Gagasan Bertemu Aksi, NUO Siapkan Generasi Rukun Bagi Generasi Muda

Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
23 Apr 2026
Views
2

Berangkat dari visi besar untuk membumikan pemikiran Nasaruddin Umar dalam melahirkan generasi yang cerah dan mencerahkan, diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) pada Selasa (21/4/2026). Kegiatan ini menghadirkan para akademisi dan praktisi untuk merancang komunitas berskala nasional sebagai wadah strategis dalam menerjemahkan gagasan menjadi aksi nyata di kalangan anak muda.

Direktur Social Action, Fahri Badina Nur, M.A., menyampaikan bahwa akselerasi visi tersebut membutuhkan pendekatan baru yang adaptif dan inovatif. Karena itu, Generasi Rukun dihadirkan sebagai ruang kolaboratif bagi anak muda untuk mengimplementasikan nilai-nilai moderasi, keberagaman, dan kemanusiaan dalam kehidupan nyata.

Dalam diskusi tersebut, Muhammad Adlin Sila, M.A., Ph.D., Peneliti Senior pada Bidang Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI, menjelaskan bahwa toleransi merupakan sikap sadar untuk tidak saling mengganggu, sementara moderasi adalah proses menuju terciptanya toleransi. Sejalan dengan itu, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar menekankan bahwa semakin tinggi keberagamaan seseorang, seharusnya semakin terbuka dan tidak eksklusif dalam kehidupan sosial.

Sementara itu, Dr. Abdul Mulid Nawawi, M.A., Kaprodi Pascasarjana IAT PTIQ, menyoroti pentingnya tasawuf sebagai jalan integratif antara syariat dan hakikat. Ia merujuk pada karya-karya klasik seperti Risalah Qusyairiyah, Lathaif Isyarah, dan Ihya Ulumuddin dalam menjelaskan bahwa proses tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) menjadi kunci dalam perjalanan spiritual, dari taubat hingga mencapai ridha Allah SWT.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa tasawuf tidak hanya berlandaskan aspek teologis, tetapi juga memiliki dimensi ontologis, epistemologis, dan aksiologis sebagaimana dikembangkan oleh tokoh-tokoh seperti Ibnu Arabi, Al-Qusyairi, dan Imam Al-Ghazali. Dalam konteks kekinian, tasawuf dipandang sebagai pendekatan kritis yang mampu merespons tantangan seperti tekstualisme sempit, radikalisme, hingga overmaskulinitas, sekaligus menegaskan harmoni antara manusia dan alam sebagai satu kesatuan yang utuh.

Dari perspektif gender, Dr. Nur Rofiah, M.Ag., Manager Akademik Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal, menegaskan bahwa kajian gender dalam Al-Qur’an tidak hanya bertujuan merespons tafsir yang bias, tetapi juga mengkritisi metodologi yang digunakan. Ia menyoroti pentingnya membedakan antara jenis kelamin (biologis) dan gender sebagai konstruksi sosial.

Pendekatan ini mendorong pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an secara esensial dan kontekstual (qat’i dan zhanni), sehingga tetap relevan lintas zaman. Dengan demikian, upaya pemberdayaan perempuan, termasuk dalam peran kepemimpinan dalam keluarga dapat dipahami secara lebih adil dan proporsional.

Di sisi lain, Dr. H. Basnang Said, M.Ag., Direktur Pesantren pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, menekankan pentingnya adaptasi budaya yang tetap selaras dengan syariat Islam. Ia menyebut pesantren sebagai sistem pendidikan otentik bangsa yang berakar kuat pada nilai lokal sekaligus mencerminkan komitmen kebangsaan, sebagaimana digagas oleh Nahdlatul Ulama. Pesantren, lanjutnya, perlu terus mendorong internasionalisasi keilmuan Islam serta merevitalisasi tradisi intelektualnya, agar mampu berkontribusi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di kancah global.

Ke depan, kehadiran Generasi Rukun diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang mampu menjembatani gagasan dan aksi, sekaligus melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan sosial. Dengan demikian, harmoni, keadilan, dan keberagaman tidak hanya menjadi wacana, melainkan menjadi praktik hidup yang nyata di tengah masyarakat.
 

 


 

Tags:
  • Share: