Search Now!
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us

Apa Itu Bias Gender? Ini Penjelasan dan Contohnya

Images

Apa Itu Bias Gender? Ini Penjelasan dan Contohnya

Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
15 Apr 2026
Views
8

Ada satu hal yang sering tidak kita sadari bahwa sebagian dalil agama kerap digunakan secara keliru untuk membenarkan praktik yang tidak adil terhadap perempuan.

Misalnya, anggapan bahwa perempuan harus selalu tunduk tanpa ruang berdialog, atau bahwa laki-laki memiliki otoritas penuh tanpa mempertimbangkan keadilan dan kemaslahatan bersama. Pemahaman seperti ini sering kali tidak lahir dari ajaran agama itu sendiri, melainkan dari tafsir yang dipengaruhi budaya dan kebiasaan sosial.

Karena itu, sudah saatnya kita membaca ulang teks-teks keagamaan, termasuk Al-Qur’an, dengan perspektif keadilan dan kemanusiaan. Sebab pada dasarnya, seluruh ajaran agama hadir untuk membawa kebaikan, bukan ketimpangan.

Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud dengan bias gender, dan bagaimana kita bisa menyikapinya dengan bijak? Temukan jawabannya dalam artikel ini!

Apa itu Bias Gender?

Bias gender adalah cara pandang, sikap, atau perlakuan yang tidak adil terhadap seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Bias ini sering kali muncul secara tidak disadari, karena telah menjadi bagian dari kebiasaan sosial yang berlangsung lama.

Bias gender dapat terlihat dalam berbagai bentuk, seperti pembatasan peran perempuan di ruang publik, anggapan bahwa laki-laki harus selalu dominan, atau penilaian yang berbeda terhadap laki-laki dan perempuan dalam situasi yang sama.

Dalam banyak kasus, bias gender juga diperkuat oleh penafsiran keagamaan yang tidak utuh. Padahal, jika ditelusuri lebih dalam, nilai-nilai dasar agama justru menjunjung tinggi keadilan, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia.

Oleh karena itu, memahami bias gender bukan berarti menentang ajaran agama, melainkan upaya untuk mengembalikan nilai agama pada semangat keadilan dan kemanusiaannya.

Membaca Ulang Bias Gender

Beberapa contoh dapat kita temukan dalam teks keagamaan yang perlu dibaca ulang secara lebih kontekstual. Salah satunya adalah QS. An-Nisa ayat 34:

وَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًاۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرً

Artinya: “Perempuan-perempuan yang kamu khawatirkan akan nusyuz, berilah mereka nasihat, tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu,) pukullah mereka (dengan cara yang tidak menyakitkan). Akan tetapi, jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Ayat ini sering dipahami secara harfiah sebagai pembenaran tindakan kekerasan terhadap perempuan. Padahal, maknanya bukan sebagai tindakan memukul secara fisik, melainkan sebagai bentuk langkah simbolik atau upaya tegas tanpa menyakiti, seperti menjauh atau memberi peringatan keras. Artinya, selalu mengedepankan nilai kasih sayang dan keadilan, bukan kekerasan.

Contoh lain adalah praktik khitan perempuan yang masih dilakukan di beberapa wilayah. Meskipun dalam mazhab tertentu disebutkan kewajiban, banyak ulama kontemporer menegaskan bahwa tidak ada dasar yang kuat dan tegas yang mewajibkannya, serta perlu mempertimbangkan aspek kesehatan dan kemaslahatan.

Dalam hadis Rasulullah SAW juga dikatakan perintah mengenai hubungan seksualitas yang selama ini ditafsirkan keliru oleh pemikiran kita yang hanya melihat dari satu sudut pandang:

“Jika perempuan tidur di malam hari dalam keadaan menolak keinginan suami (berhubungan seks) maka akan dilaknat malaikat hingga pagi hari.” (HR. Al-Bukhari).

Pemahaman ini kerap digunakan tanpa melihat konteks. Padahal, relasi suami-istri dalam Islam dibangun atas dasar saling ridha, kesehatan, dan penghormatan satu sama lain, bukan paksaan.

Karena itu, penting untuk membaca teks agama secara menyeluruh. Bukan berarti mengubah ajaran, melainkan mengembalikan maknanya pada nilai dasar seperti keadilan, kasih sayang, dan kemanusiaan.

Tags:
  • Share: