Menelusuri Jejak Pengabdian Nasaruddin Umar di Nahdlatul Ulama
Menelusuri Jejak Pengabdian Nasaruddin Umar di Nahdlatul Ulama
Direktorat Media NUO
22 Jun 2026
5
Nama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA barangkali sudah tak asing di telinga publik. Rekam jejaknya di ranah keagamaan yang memadukan tradisi keilmuan dengan realitas kehidupan modern, menjadikannya sosok yang ideal dalam berbagai peran.
Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa perjalanan panjang Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA ditempa oleh tradisi Nahdlatul Ulama (NU). Dari lingkungan pesantren, dunia kemahasiswaan, hingga dipercaya mengemban amanah sebagai Rais PBNU, setiap fase kehidupannya memperlihatkan bahwa kepemimpinan lahir dari proses belajar, pengabdian, dan kepercayaan.
Salah satu kisah yang jarang diketahui publik adalah ketika beliau rela menjual sepeda motornya demi mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Bagi beliau, organisasi bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan ruang untuk menempa karakter, memperluas wawasan, dan menyiapkan diri mengabdi kepada agama serta bangsa.
Puluhan tahun mengabdi di lingkungan Nahdlatul Ulama bukanlah perjalanan untuk mengejar jabatan atau pengakuan. Sebaliknya, perjalanan tersebut menjadi wujud komitmennya dalam merawat tradisi keilmuan, memperkuat persatuan, serta menghadirkan nilai-nilai Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Artikel ini akan membahas lengkap bagaimana kiprah dan jejak pengabdian Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dengan nilai-nilai yang terus beliau perjuangkan. Simak selengkapnya di artikel ini.
Tumbuh Bersama Tradisi, Mengabdi dengan Amanah
Perjalanan pengabdian Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA berawal dari Pondok Pesantren As'adiyah Sengkang, Sulawesi Selatan. Pesantren yang berdiri sejak 1930 ini dikenal sebagai salah satu pusat lahirnya ulama dan cendekiawan Muslim di kawasan timur Indonesia.
Di lingkungan pesantren inilah beliau ditempa oleh tradisi keilmuan Islam klasik, kedisiplinan, serta nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah yang menjadi karakter khas Nahdlatul Ulama. Fondasi tersebut membentuk cara pandangnya terhadap agama: berpegang teguh pada tradisi, namun tetap terbuka terhadap perkembangan zaman dan perubahan masyarakat.
Semangat menuntut ilmu itu kemudian berlanjut ketika beliau melanjutkan pendidikan di IAIN Alauddin Makassar (kini UIN Alauddin Makassar). Di kampus inilah perjalanan organisasinya berkembang melalui Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), organisasi kader yang selama ini menjadi bagian penting dalam tradisi intelektual Nahdlatul Ulama.
Kecintaannya terhadap dunia kaderisasi bahkan begitu besar hingga beliau rela menjual sepeda motornya agar dapat mengikuti proses penerimaan anggota baru PMII. Pengalaman tersebut menjadi bukti bahwa bagi beliau, pengabdian selalu membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan.
Dedikasi dan komitmennya terhadap organisasi kemudian mendapat kepercayaan dari para ulama Nahdlatul Ulama. Atas arahan KH. M. Sanusi Baco, beliau dipercaya mengemban amanah sebagai Katib Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan. Amanah tersebut menjadi awal dari perjalanan panjangnya di lingkungan NU hingga kemudian dipercaya sebagai Mustasyar PBNU dan kini mengemban amanah sebagai Rais PBNU masa khidmat 2022–2027.
Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak lahir secara instan, melainkan tumbuh melalui proses panjang, keteladanan, dan kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.
Nilai-Nilai Pengabdian yang Terus Berjalan
Bagi Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, setiap amanah bukan hanya jabatan, melainkan tanggung jawab untuk terus menghadirkan kemaslahatan bagi umat melalui dakwah, pendidikan, dan penguatan bangsa.
Lebih dari sekadar mengabdi di organisasi, beliau terus membawa nilai-nilai kearifan Nahdlatul Ulama dalam berbagai ruang pengabdian. Mulai dari moderasi beragama, tradisi keilmuan, dialog lintas agama, persatuan dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut semakin menghadirkan Islam yang rahmatan lil’alamin.
Selain di lingkungan domestik, ia juga memiliki jejak yang kuat di forum internasional dengan banyak mengikuti berbagai konferensi internasional dan mempromosikan Islam Wasathiyah yang moderat ala NU.
Hal ini menunjukkan perannya sebagai tokoh toleransi dunia yang rendah hati dan sikap tawadhu, terlebih saat menyapa dan menyambut Paus Fransiskus dalam kunjungannya ke Masjid Istiqlal dan ini mendapat perhatian yang luas melalui media internasional.
Jejak pengabdian Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA di Nahdlatul Ulama bukan sekadar rangkaian jabatan yang pernah diemban. Lebih dari itu, perjalanan tersebut mencerminkan komitmen untuk terus merawat tradisi keilmuan, memperkuat persatuan, dan menghadirkan Islam yang membawa rahmat bagi seluruh umat.
Search here
Recent Post
-
Memberikan Rasa Adil Terhadap Sesama
- 22 Jun 2026
-
Muharram Tiba: Sudah Sejauh Mana Kita Berhijrah?
- 16 Jun 2026