Search Now!
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us
Contact Info
Location Jl. Berlian No.1, Jatinegara, Jakarta Timur 13330, Indonesia
Follow Us

Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas

Images

Nabi Tidak Mengenal Istilah Mayoritas dan Minoritas

Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
10 Jun 2026
Views
1

Nabi saw. tidak pernah memperkenalkan istilah kelompok mayoritas-minoritas (aktsariyah-akaliyah). Baik ketika ia menjadi kelompok minoritas di Mekkah maupun ketika menjadi kelompok mayoritas di Madinah.

Istilah kelompok mayoritas-minoritas muncul dalam dunia Islam, menurut Dr. Kamal Said Habib, dikenal dalam pemerintahan Dinasti Usmani (Kerajaan Ottoman) Turki ketika bersinggungan dengan beberapa kelompok masyarakat/negara yang berada di bawah kelompok protektorat negara-negara besar Eropa. Para ulama fikih, terutama empat imam mazhab  terkemuka Sunni, yaitu Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad ibn Hanbal, juga tidak memperkenalkan konsep mayoritas-minoritas. 

Hal ini bisa difahami karena dalam Islam tidak dibedakan hak antara orang-orang yang tergolong dari kelompok mayoritas maupun kelompok minoritas. Al-Qur’an mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. agar memperlakukan kelompok minoritas sebagai bagian dari manusia yang harus dihargai, sebagaimana ditegaskan

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ

Artinya: “Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra: 70)

Apapun jenis kelamin, etnik, kewarganegaraan, dan agamanya harus mendapatkan hak-hak kemanusiaan yang sama. Lebih khusus lagi Allah swt. mendiktekan kalimat yang harus disampaikan kepada kelompok non-muslim ketka itu: 

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ 

Artinya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku.” (QS. Al-Kafirun: 6)

Ada sejumlah ayat dalam Al-Qur’an dapat dimaknai kelompok minoritas dan mayoritas tetapi tidak menunjukkan adanya kelas, melainkan hanya mengkategorikan sementara untuk membedakan antara satu dengan lainnya. Di antara ayat-ayat tersebut ialah:

وَاذْكُرُوْٓا اِذْ اَنْتُمْ قَلِيْلٌ مُّسْتَضْعَفُوْنَ فِى الْاَرْضِ تَخَافُوْنَ اَنْ يَّتَخَطَّفَكُمُ النَّاسُ فَاٰوٰىكُمْ وَاَيَّدَكُمْ بِنَصْرِهٖ وَرَزَقَكُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: “Ingatlah ketika kamu (umat Islam) masih (berjumlah) sedikit lagi tertindas di bumi (Makkah). (Saat itu) kamu takut bahwa orang-orang akan menculikmu, lalu Dia memberimu tempat menetap (Madinah), menjadikanmu kuat dengan pertolongan-Nya, dan memberimu rezeki yang baik agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Anfal: 26)

Demikian pula dalam ayat: 

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: 

كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Artinya: "...Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Baqarah: 249)

Ayat-ayat tersebut di atas tidak mengisyaratkan kelompok mayoritas lebih istimewa daripada kelompok minoritas. Bahkan ayat kedua menunjukkan tidak tertutup kemungkinan justru kelompok minoritas akan memperoleh keutamaan jika bekerja keras dan profesional. Pembedaan kelompok atas nama jumlah di dalam Islam tidak memiliki akibat politik secara signifikan. 

Nabi saw. berkali-kali memilih opsi pendapat yang didukung minoritas ketimbang pendapat yang didukung mayoritas. Contohnya, perjanjian Hudaibiyah yang sangat monumental itu. Nabi saw. tetap memilih keyakinannya sendiri bersama sejumlah kecil sahabat  ketimbang pertimbangan sejumlah besar sahabatnya. Tegasnya, istilah mayoritas dan minoritas tidak pernah dijadikan acuan Nabi saw. di dalam menentukan kebijakan politik. 

Yang terpenting, mana di antara kelompok itu yang profesional di situlah Nabi saw. akan memihak. Sungguhpun sudah menjadi umat dan warga mayoritas di Madinah, tetap saja Nabi saw. memberi kepercayaan terhadap kelompok minoritas, sebagaimana akan dijelaskan dalam beberapa artikel mendatamg.

Tags:
  • Share: