Saat Pancasila Mengajarkan Kita untuk Berhijrah
Saat Pancasila Mengajarkan Kita untuk Berhijrah
Direktorat Media NUO
02 Jun 2026
1
Hari Lahir Pancasila yang kita peringati setiap tanggal 1 Juni bukan sekadar urusan menghafal lima sila atau menyanyikan lagu Garuda Pancasila saat upacara bendera. Di baliknya, ada perjalanan panjang yang sarat dengan perjuangan, pemikiran, dan cita-cita besar tentang bagaimana Indonesia dibangun sebagai sebuah bangsa.
Perjalanan dimulai sejak sidang pertama BPUPKI pada 29 Mei 1945. Dalam sidang itu, sejumlah tokoh bangsa mengusulkan dasar negara, termasuk Mr. Mohammad Yamin yang memperkenalkan lima asas berupa peri kebangsaan, peri kemanusiaan, peri ketuhanan, peri kerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.
Proses perumusan tersebut terus berkembang hingga akhirnya melahirkan Pancasila yang kita kenal hari ini. Bahkan setelah Indonesia merdeka, berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat identitas kebangsaan, termasuk pembentukan Panitia Lambang Negara pada 10 Januari 1950 yang dipimpin oleh Mr. Mohammad Yamin dan beranggotakan sejumlah tokoh nasional.
Namun, Pancasila bukan hanya warisan sejarah. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya juga mengandung semangat perubahan atau hijrah. Hijrah bukan sekadar perpindahan fisik sebagaimana perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan proses transformasi menuju keadaan yang lebih baik.
Lalu, bagaimana Pancasila dapat menjadi semangat hijrah bagi bangsa Indonesia? Dan mengapa nilai-nilainya tetap relevan di tengah berbagai tantangan zaman saat ini? Mari kita telaah bersama di artikel ini!
Mengapa Pancasila Pantas Menjadi Arah Petunjuk Bangsa?
Mengapa Pancasila hadir dalam kehidupan kita? Mengapa pula sejak kecil kita diajarkan untuk menghafal dan mengamalkan nilai-nilainya?
Pertanyaan tersebut penting diajukan agar kita tidak memandang Pancasila sekadar sebagai simbol kenegaraan, melainkan sebagai fondasi yang menjaga arah perjalanan bangsa.
Jika kita mencermati lebih dalam, kelima sila dalam Pancasila sesungguhnya mencerminkan nilai-nilai dasar pembangunan nasional. Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial menjadi fondasi yang menjaga keseimbangan kehidupan berbangsa dan bernegara.
Sejarah menunjukkan bahwa banyak negara mengalami krisis identitas ketika kehilangan pijakan ideologisnya. Sebaliknya, bangsa yang memiliki arah dan nilai bersama cenderung lebih kokoh menghadapi perubahan zaman dan arus globalisasi.
Hal tersebut juga terlihat dalam berbagai upaya pembangunan nasional. Penguatan industri dalam negeri, pemberdayaan UMKM, peningkatan kualitas pendidikan, hingga pemerataan kesejahteraan merupakan bagian dari ikhtiar mewujudkan cita-cita keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila.
Karena itu, Pancasila bukan sekadar dokumen yang diwariskan oleh para pendiri bangsa. Ia adalah kompas moral yang membantu Indonesia menjadi bangsa modern tanpa kehilangan jati dirinya, maju tanpa meninggalkan kemanusiaan, dan kuat tanpa kehilangan persatuan.
Di tengah polarisasi politik, derasnya arus informasi, dan berbagai tantangan sosial yang kita hadapi hari ini, Pancasila mengingatkan bahwa perbedaan bukan alasan untuk terpecah, melainkan modal untuk membangun tujuan bersama.
Saatnya Hijrah menuju Indonesia yang Bermarwah
Pancasila memiliki semangat yang tidak hanya berlandaskan Bhinneka Tunggal Ika, tetapi juga semangat hijrah. Hijrah yang dimaksud bukan sekadar perpindahan tempat sebagaimana yang dilakukan Nabi Muhammad SAW, melainkan perubahan menuju kondisi yang lebih baik.
Dalam konteks kebangsaan, hijrah dapat dimaknai sebagai proses perbaikan yang terus menerus dilakukan oleh bangsa Indonesia. Hijrah dari ketergantungan menuju kemandirian. Hijrah dari korupsi menuju integritas. Hijrah dari ketidakadilan menuju pemerataan. Dan hijrah dari politik kebencian menuju politik kebangsaan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan marwah bangsa?
Marwah adalah kehormatan, harga diri, dan kemuliaan yang dimiliki oleh suatu bangsa. Marwah tidak lahir dari besarnya sumber daya alam atau tingginya gedung pencakar langit, melainkan dari kualitas moral, keadilan, persatuan, dan karakter masyarakatnya.
Kehormatan bangsa tumbuh ketika nilai-nilai Pancasila benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari. Ketuhanan melahirkan integritas moral. Kemanusiaan melahirkan kepedulian sosial. Persatuan menguatkan solidaritas kebangsaan. Musyawarah menghadirkan demokrasi yang bermartabat. Dan keadilan sosial memastikan kesejahteraan dapat dirasakan oleh seluruh rakyat.
Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila sejatinya bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga upaya kita menghidupkan kembali semangat untuk terus berhijrah menjadi bangsa yang lebih baik.
Di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks, Pancasila mengajak kita untuk tidak kehilangan arah. Sebab bangsa yang besar bukanlah bangsa yang tidak pernah menghadapi masalah, melainkan bangsa yang mampu terus memperbaiki diri tanpa meninggalkan nilai-nilai yang menjadi jati dirinya.
Pada akhirnya, semangat hijrah yang terkandung dalam Pancasila mengingatkan bahwa kemajuan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau pembangunan fisik semata. Kemajuan sejati adalah ketika Indonesia mampu tumbuh sebagai bangsa yang adil, bermartabat, berkeadaban, dan tetap menjunjung tinggi kemanusiaan.
Maka, Hari Lahir Pancasila adalah momentum untuk bertanya kembali kepada diri kita: sudah sejauh mana kita berhijrah sebagai individu, dan sudah sebesar apa kontribusi kita dalam menjaga marwah Indonesia sebagai bangsa yang berlandaskan Pancasila?
Search here
Recent Post
-
Iduladha dan Mimpi Haji di Usia Muda
- 27 May 2026
-
Belajar Mewaspadai Liberalisme secara Bijak
- 21 May 2026