Ketika Nabi Memberi Ruang bagi Non-Muslim di Negeri Muslim
Ketika Nabi Memberi Ruang bagi Non-Muslim di Negeri Muslim
Direktorat Media NUO
29 Jun 2026, 13:45
Semenjak masa Nabi Muhammad SAW, sahabat, dan generasi sesudahnya, hingga sekarang, selain Tanah Haram (Mekkah), warga non-muslim bebas keluar masuk di negeri-negeri muslim. Bahkan, warga non-muslim juga diberi hak untuk tinggal di negeri muslim dengan berbagai jaminan keamanan.
Nabi Muhammad SAW selalu mencontohkan seberapa besar apresiasinya terhadap warga non-muslim yang tinggal di negeri muslim. Nabi Muhammad SAW sangat tegas dalam hal ini, sebagaimana dapat dilihat dalam hadis shahih yang diriwayatkan oleh Safwan ibn Sulaiman, bahwa beliau pernah bersabda:
أَلَا مَنْ ظَلَمَ مُعَاهِدًا، أَوِ انْتَقَصَهُ، أَوْ كَلَّفَهُ فَوْقَ طَاقَتِهِ، أَوْ أَخَذَ مِنْهُ شَيْئًا بِغَيْرِ طِيبِ نَفْسٍ، فَأَنَا حَجِيجُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Barang siapa yang mendhalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian” (HR. Abu Daud, 3052, III/170).
Sejarah mencatat bagaimana warga non-muslim bisa berinteraksi dengan saudara-saudaranya yang muslim dalam berbagai bidang. Mereka bisa melakukan interaksi bisnis satu sama lain sebagaimana dilakukan kelompok Yahudi dan Nashrani di Madinah.
Warga non-muslim di masa Nabi Muhammad SAW tidak pernah merasa warga kelas dua. Mereka bisa menjumpai beliau dan keluarganya kapan pun dan di manapun. Nabi Muhammad SAW tidak pernah menggeneralisir warga non-muslim yang sering memerangi Nabi Muhammad SAW dengan warga non-muslim yang menjalin perjanjian damai dan hidup terlindungi di dalam otoritas wilayah muslim.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW menerima delegasi non-muslim yang terdiri atas tokoh-tokoh lintas agama berjumlah 60 orang, 14 orang di antaranya dari kelompok Kristen Najran. Rombongan tamu dipimpin oleh Abdul Masih. Rombongan ini diterima di masjid dengan penuh persahabatan. Bahkan, menurut Muhammad ibn Ja’far ibn al-Zubair, sebagaimana dikutip Abdul Muqsith dalam kitab “Al-Shirat al-Nabawiyyah”, karya Ibn Hisyam, Juz II, h. 426-428, ketika waktu kebaktian tiba, maka rombongan tamu Rasulullah SAW ini melakukan kebaktian di dalam masjid dengan menghadap ke arah timur.
Ia tidak membeda-bedakan tamu berdasarkan kelas dan status sosial. Luar biasa riwayat ini dan sekaligus membuktikan bahwa Nabi Muhammad SAW pantas dikagumi oleh semua orang tanpa membedakan agama, suku, dan golongan. Pantaslah kalau beliau dinobatkan oleh Michael Hart sebagai Peringkat Pertama dari 100 tokoh terkemuka yang pernah dilahirkan di muka bumi ini, atau oleh Thomas Carlile dinobatkan sebagai Tokoh Utama di antara 11 Tokoh yang pernah lahir di muka bumi ini.
Yang paling penting bagi kita semua adalah bagaimana kearifan Nabi Muhammad SAW bisa diikuti oleh semua pihak. Karena Nabi Muhammad SAW adalah tokoh yang sering disebut lahir jauh melampaui kurun waktunya ini betul-betul menarik untuk dikaji. Kebijakan-kebijakan dan statement-statmentnya selalu tepat untuk semua orang dan di setiap waktu. Nabi Muhammad SAW hampir-hampir tidak pernah ada orang yang tersinggung pada setiap kebijakan dan statmentnya. Kita tentu merindukan sosok orang seperti ini.
Non-muslim sebetulnya tidak perlu terlalu khawatir dengan Islam, apalagi dengan memunculkan istilah Islam Phobia. Islam bukan agama yang menakutkan. Islam, sesuai dengan namanya sendiri berarti damai, tidak pernah dimaksudkan untuk menakut-nakuti orang. Segala hal yang menyebabkan kesengsaraan, kesedihan, dan malapetaka pasti itu tidak sejalan dengan Islam bahkan bisa disebut sebagai musuh Islam. Musuh kemanusiaan adalah juga musuh Islam.
Search here
Recent Post
-
Memberikan Rasa Adil Terhadap Sesama
- 22 Jun 2026
-
Muharram Tiba: Sudah Sejauh Mana Kita Berhijrah?
- 16 Jun 2026