Jakarta – Minggu pagi di kawasan Car Free Day Jakarta terasa berbeda. Di tengah ramainya masyarakat berolahraga dan menikmati suasana akhir pekan, sejumlah tokoh lintas agama berjalan bersama dalam satu barisan. Tidak ada sekat agama maupun latar belakang. Mereka berjalan dalam satu langkah melalui kegiatan Interfaith Walk, sebuah gerakan yang digagas untuk memperkuat kerukunan dan perdamaian antarumat beragama.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat, Minggu (17/11) tersebut diikuti oleh Wakil Presiden Republik Indonesia saat itu, KH. Ma’ruf Amin, bersama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dan sejumlah tokoh lintas agama lainnya.
Interfaith Walk tidak hadir sebagai perayaan seremonial semata. Diinisiasi di bawah koordinasi Nasaruddin Umar Office (NUO), kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan sederhana yang mempertemukan berbagai unsur masyarakat dalam suasana yang hangat dan terbuka.
Dengan berjalan bersama, para peserta menunjukkan bahwa kerukunan tidak selalu harus dimulai dari forum besar atau percakapan yang rumit. Terkadang, langkah sederhana untuk hadir, bertemu, dan berjalan bersama dapat menjadi awal untuk membangun rasa saling percaya.
Seperti apa perjalanan Interfaith Walk dan pesan kerukunan yang dibawanya? Mari menelusurinya kembali.
Berjalan Bersama, Merayakan Perbedaan
Interfaith Walk dimulai pada Minggu pagi dari Gedung Sarinah Thamrin. Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin tiba sekitar pukul 06.50 WIB dengan mengenakan pakaian olahraga. Bersama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA dan sejumlah tokoh lintas agama, rombongan kemudian berjalan menyusuri kawasan Car Free Day Jakarta.
Para peserta menempuh jarak sekitar 2,7 kilometer, dari Gedung Sarinah menuju Bundaran Hotel Indonesia dan kembali lagi ke Gedung Sarinah.
Meski sederhana, perjalanan tersebut membawa pesan yang kuat. Para peserta dari berbagai latar belakang agama berjalan berdampingan dalam satu ruang publik yang sama. Tidak ada yang berjalan sendiri-sendiri berdasarkan identitasnya. Semua hadir sebagai bagian dari masyarakat Indonesia yang memiliki tujuan bersama: menjaga kerukunan.
Di tengah suasana Car Free Day yang ramai, Interfaith Walk menjadi gambaran kecil tentang bagaimana keberagaman dapat hadir secara alami dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk menjaga jarak. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk saling mengenal dan membangun kedekatan.
Dari Jakarta, Membawa Pesan Kerukunan ke Seluruh Indonesia
Bagi Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, Interfaith Walk bukan sekadar kegiatan satu hari. Sejak awal, kegiatan ini dirancang sebagai gerakan yang dapat terus dilanjutkan dan menjangkau berbagai daerah di Indonesia.
Dalam kesempatan tersebut, Nasaruddin Umar menyampaikan harapannya agar Interfaith Walk dapat diselenggarakan secara rutin setiap tahun di berbagai ibu kota provinsi dan kabupaten.
“Insya Allah kita bisa menemukan sesuatu yang bisa merekatkan bangsa ini. Insya Allah Interfaith Walk ini akan dilaksanakan setiap tahun, dan di setiap ibu kota provinsi dan kabupaten,” ungkapnya.
Gagasan tersebut memperlihatkan bahwa ruang perjumpaan lintas agama perlu terus diperluas. Jika kerukunan hanya dibicarakan dalam ruang-ruang tertentu, dampaknya mungkin terbatas. Namun, ketika nilai tersebut dibawa ke ruang publik dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, kerukunan dapat tumbuh menjadi kebiasaan bersama.
Karena itu, Interfaith Walk memiliki makna lebih luas dari sekadar jalan santai. Ia menjadi simbol bahwa masyarakat Indonesia dapat berjalan bersama meskipun memiliki keyakinan, tradisi, dan latar belakang yang berbeda.
Interfaith Walk menjadi pengingat bahwa merawat kerukunan bisa dimulai dari langkah yang sangat sederhana. Berjalan bersama, saling menyapa, berbagi ruang, dan menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menghalangi kita untuk menjadi bagian dari satu bangsa.
Dari langkah-langkah kecil itulah, harapannya lahir gerakan yang lebih besar: Indonesia yang tidak hanya hidup berdampingan dalam keberagaman, tetapi juga mampu berjalan bersama untuk menjaga perdamaian dan persatuan.