Apa jadinya jika kita hidup tanpa bergantung pada bantuan orang lain? Dalam kehidupan sehari-hari yang penuh dengan berbagai tantangan, kita tentu membutuhkan kehadiran dan pertolongan sesama dan tidak semua hal bisa kita hadapi seorang diri.
Dalam Islam, sikap ini dikenal dengan istilah ta’awun, yakni semangat tolong-menolong dalam kebaikan. Melalui sikap ini, manusia diajak untuk tidak hanya memikirkan kepentingan diri sendiri, tetapi juga memperhatikan keadaan orang-orang di sekitarnya.
Anjuran untuk saling menolong ditegaskan dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Al-Ma’idah ayat 2:
وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”
Ayat ini memberikan pedoman bahwa setiap orang didorong untuk berkontribusi dalam menghadirkan manfaat bagi sesama, bukan justru bekerja sama dalam tindakan yang merugikan orang lain.
Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya menolong sesama melalui hadis riwayat Muslim dari Abu Hurairah:
“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim).
Ketika kita berusaha meringankan kesulitan orang lain, kita juga sedang memberikan kebaikan bagi diri kita sendiri. Dan, pertolongan tidak selalu harus berupa materi. Memberikan kemudahan, mendengarkan keluh kesah, dan membantu seseorang keluar dari kesulitan juga merupakan bentuk kepedulian.
Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kesempatan Lain
Salah satu hal penting dari semangat ta’awun adalah kebaikan dapat dilakukan kepada siapa saja. Perbedaan agama, suku, budaya, maupun pandangan bukan menjadi satu-satunya alasan penghalang kita untuk menutup kepedulian terhadap orang lain.
Ketika terjadi bencana, misalnya, masyarakat dari berbagai latar belakang bergotong royong mengumpulkan bantuan, menyediakan tempat pengungsian, dan membantu proses pemulihan.
Begitu pula ketika lingkungan menghadapi persoalan kebersihan, kemiskinan, atau keterbatasan akses pendidikan. Semua pihak dapat mengambil bagian sesuai kemampuan masing-masing.
Prinsip ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Surah Al-Mumtahanah ayat 8. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan berlaku adil kepada orang-orang yang tidak memerangi mereka karena agama dan tidak mengusir mereka dari tempat tinggalnya.
Karena itu, ta’awun selayaknya jembatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang lebih rukun. Kita tidak harus memiliki keyakinan atau pandangan yang sama untuk bekerja sama dalam menjaga lingkungan, membantu korban bencana, atau memperjuangkan kepentingan bersama.
Menolong dalam Kebaikan, Bukan dalam Keburukan
Meski mendorong kerja sama, Islam juga memberikan batasan mengenai tindakan yang layak didukung. Surah Al-Ma’idah ayat 2 secara jelas memerintahkan umat Islam untuk saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan, bukan dalam dosa dan permusuhan.
Artinya, ketika membantu seseorang melakukan tindakan yang merugikan orang lain, menyebarkan kebencian, atau melakukan kekerasan bukanlah bagian dari ta’awun yang diajarkan Islam. Kepedulian perlu disertai tanggung jawab moral agar bantuan yang diberikan benar-benar membawa manfaat.
Prinsip ini juga mengingatkan bahwa perbedaan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan permusuhan. Ketika terjadi perselisihan, setiap dari kita perlu mengutamakan sikap adil, menahan diri, dan mencari penyelesaian yang tidak merugikan orang lain.
Dengan demikian, ta’awun adalah membangun kesadaran tentang tujuan dari kerja sama tersebut. Kebaikan harus menjadi landasan agar hubungan sosial dapat tumbuh secara sehat dan saling menguatkan.