Mengapa Kita Harus Bermaafan di Hari Raya Idulfitri?
Mengapa Kita Harus Bermaafan di Hari Raya Idulfitri?
Direktorat Media NUO
26 Mar 2026
26
Perayaan Hari Raya Idulfitri tidak lepas dari tradisi saling maaf-memaafkan. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan, tradisi ini menjadi momen untuk membersihkan hati dan memperbaiki hubungan antarsesama.
Namun, pernahkah terlintas di benak kita, mengapa bermaafan seolah menjadi ritual wajib di hari raya? Bukankah sebagai manusia kita memang diperintahkan untuk saling memaafkan dalam kehidupan sehari-hari?
Ternyata, tradisi ini bukan sekadar kebiasaan sosial. Jika ditelusuri lebih dalam, saling memaafkan di hari raya memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam. Selengkapnya, kita bahas di dalam artikel ini.
Asal-Usul Saling Memaafkan
Kata maaf berasal dari bahasa Arab al-’afwu yang berarti memberi ampun atas kesalahan orang lain tanpa menyimpan rasa benci, sakit hati, ataupun keinginan untuk membalas dendam.
Tradisi saling memaafkan pada Idulfitri sejatinya memiliki tujuan mulia, yaitu membentuk pribadi yang bertakwa. Salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain.
Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 134:
“(yaitu) orang-orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Ayat ini menegaskan bahwa kemampuan memaafkan, bahkan ketika kita mampu membalas, adalah bagian dari akhlak mulia yang dicintai Allah SWT.
Karena itu, tradisi bermaafan di hari raya bukan sekadar kebiasaan turun-temurun atau formalitas, melainkan cerminan keberhasilan seorang muslim dalam menempuh pendidikan spiritual selama Ramadan.
Manfaat Membuka Pintu Maaf
Saat kita membuka hati untuk memaafkan, sesungguhnya kita sedang memperoleh nikmat yang besar. Memaafkan berarti memilih untuk tidak mengungkit luka, tidak membalas keburukan, dan tidak membiarkan hati terus terbebani oleh amarah. Ini bukan keputusan yang mudah, tetapi justru di situlah letak nilai ketakwaannya.
Lebih dari itu, memaafkan juga menjadi cara untuk meringankan beban hidup. Ketika emosi terasa menumpuk, memaafkan bisa menjadi jalan untuk menghadirkan ketenangan dalam diri.
Rasulullah SAW bersabda bahwa seseorang yang memaafkan akan ditambah kemuliaannya oleh Allah SWT (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa kelapangan hati adalah bentuk kemuliaan yang sangat bernilai di sisi-Nya.
Dalam QS. Asy-Syura ayat 40, Allah SWT juga berfirman:
“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.”
Ayat ini menegaskan bahwa memaafkan bukan tanda kelemahan, melainkan jalan menuju pahala dan kemuliaan di sisi Allah SWT.
Jadi, bermaafan di hari raya Idulfitri bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi momentum untuk kembali pada fitrah, hati yang bersih, lapang, dan penuh keikhlasan. Bisa jadi, maaf yang kita berikan hari ini adalah jalan menuju ketenangan hati dan keberkahan hidup di masa depan.