Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Ketika Pikiran Tak Bisa Diam: Mengubah Overthinking Menjadi Muhasabah

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
20 Aug 2026, 12:11
Images

Pernah merasa lelah bukan karena terlalu banyak aktivitas, tetapi karena terlalu banyak berpikir? 

Satu masalah diputar berulang-ulang di kepala. Kesalahan kecil yang terjadi kemarin terus dipikirkan. Belum lagi kekhawatiran tentang sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.

Kita sering menyebutnya overthinking. Dalam psikologi, kondisi ini dekat dengan konsep rumination dan worry, yaitu pola berpikir berulang tentang masalah, kesalahan masa lalu, atau kemungkinan buruk di masa depan. 

Penelitian menunjukkan bahwa ini berkaitan dengan gejala kecemasan dan depresi, sementara pikiran negatif yang berulang juga dapat memperpanjang suasana hati yang buruk dan mengganggu kemampuan seseorang menyelesaikan masalah.

Lalu, bagaimana Islam mengajarkan kita menghadapi pikiran yang tidak kunjung berhenti? Salah satu pintu yang bisa kita coba adalah muhasabah. Kita bahas selengkapnya di artikel ini.

Ketika Aktivitas Berpikir Berubah Menjadi Beban

Pada dasarnya, berpikir bukan sesuatu yang buruk. Kita membutuhkan pikiran untuk mengevaluasi kesalahan, mengambil keputusan, merencanakan masa depan, dan belajar dari pengalaman.

Masalah muncul ketika berpikir tidak lagi menghasilkan pemahaman atau keputusan, tetapi justru berputar pada pertanyaan yang sama.

“Kenapa tadi saya bilang begitu?”

“Bagaimana kalau nanti gagal?”

“Jangan-jangan dia sebenarnya marah.”

“Seandainya waktu itu bisa diulang dan tidak jadi begini...”

Kita merasa sedang mencari jawaban, padahal sebenarnya hanya mengulang kecemasan.

Dalam kajian psikologi, kecemasan inilah dapat menjadi pola yang menetap karena seseorang terus kembali pada persoalan yang sama, terutama ketika ada tujuan yang belum tercapai, kecenderungan melihat informasi secara negatif, atau merasa bahwa berpikir terus-menerus adalah cara untuk menyelesaikan masalah.

Karena itu, salah satu langkah penting bukan sekadar berhenti berpikir, tetapi belajar mengubah cara kita berpikir. Dan di sini muhasabah menjadi kebutuhan yang kita hadapi.

Muhasabah Bukan Menyalahkan Diri

Muhasabah sering diterjemahkan sebagai introspeksi atau evaluasi diri. Dalam perspektif psikologi Islam, muhasabah dapat dipahami sebagai proses menyadari, menghitung, dan mengoreksi diri agar langkah berikutnya menjadi lebih baik. Salah satu kajian mengenai muhasabah merumuskan tiga dimensinya: kesadaran diri, evaluasi diri, dan koreksi diri.

Dengan pengertian ini, muhasabah sebenarnya sangat berbeda dari overthinkingOverthinking sering membawa kita berputar pada masa lalu tanpa menemukan jalan keluar. Muhasabah mengajak kita melihat masa lalu untuk menentukan langkah berikutnya.

Al-Qur’an memberikan dasar yang kuat untuk sikap evaluatif ini:

“Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”

(QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini menarik karena mengajak manusia melihat apa yang telah dilakukan, tetapi orientasinya adalah hari esok. Artinya, refleksi tidak berhenti pada penyesalan. Ada masa depan yang perlu dipersiapkan.

Mengubah Overthinking Menjadi Muhasabah

Pertama, beri nama pada apa yang sedang kita pikirkan.

Ketika overthinking mulai kambuh, jangan langsung mempercayai semua yang muncul di kepala. Berhenti sejenak dan tanyakan: Saya sedang menghadapi masalah atau sedang membayangkan kemungkinan?

Misalnya, “Atasan belum membalas pesan saya” adalah fakta. Sementara “Atasan pasti kecewa kepada saya” adalah bayang-bayang pikiran kita saja. Membedakan keduanya membantu kita tidak menjadikan asumsi sebagai kenyataan.

Kedua, tanyakan apa yang berada dalam kendali kita.

Tidak semua persoalan membutuhkan jawaban malam ini. Ada hal yang bisa diperbaiki, ada yang hanya bisa diterima, dan ada yang memang belum waktunya diketahui.

Jika ada yang bisa dilakukan, lakukan. Jika belum bisa dilakukan, catat dan tentukan waktunya. Jika memang berada di luar kendali, belajar melepaskannya. Karena muhasabah bukan berarti memaksa diri mendapatkan kepastian atas semua hal.

Ketiga, evaluasi tanpa menghakimi diri.

Kesalahan perlu diakui, tetapi tidak harus dijadikan alasan untuk membenci diri sendiri. Daripada berkata, “Saya tidak pernah berhasil,” ubah menjadi, “Apa yang membuat keputusan saya tadi kurang tepat, dan apa yang bisa saya lakukan keesokan hari?”

Keempat, tutup evaluasi dengan taubat dan perbaikan.

Jika kesalahan kita berkaitan dengan orang lain, mungkin langkahnya adalah meminta maaf. Jika berkaitan dengan Allah, kita kembali melalui taubat dan ibadah. Jika berkaitan dengan keputusan diri sendiri, kita mengambil pelajaran dan memperbaiki langkah.

Jadi, ada satu bagian yang sering terlupakan ketika kita mencoba mengatasi overthinking yaitu tidak semua hal harus kita selesaikan dengan pikiran sendiri.

Islam mengajarkan usaha sekaligus tawakal. Kita merencanakan, berikhtiar, mengevaluasi. Soal hasil? Serahkan semuanya kepada Dzat Maha Pemberi, Allah Subhanahuwata’ala.

Tags:
  • Share: