Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Jadi Perempuan Bijak: Jangan Sampai Kehilangan Diri Sendiri

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
26 Oct 2026, 11:35
Images

Kita sering mendengar anjuran untuk mencintai diri sendiri atau self-love, namun kerap kali perempuan justru terjebak dalam standar sosial yang menuntut kita untuk selalu tampil cantik, patuh, dan menjadi sosok yang sempurna.

Tetapi, benarkah mencintai diri sendiri berarti harus memenuhi ekspektasi orang lain?

Dr. Hj. Zainun Nasihah Ghufron, M.A., seorang aktivis dan akademisi, berbagi perspektif mendalam mengenai hal ini dalam Podcast Women Talk episode ke-4 yang dipandu oleh A. Tenri Wuleng, melalui kanal YouTube Nasaruddin Umar Office.

Menurut Ibu Inun, sapaan akrabnya, mencintai diri sendiri adalah fondasi utama bagi perempuan untuk tidak kehilangan jati diri. Ia menekankan pentingnya menjaga batas diri, baik secara fisik, psikologis, maupun spiritual.

Selebihnya, fondasi tersebut juga bertujuan agar perempuan tidak memberikan begitu saja ruang bagi pihak lain untuk "menjajah" kediriannya, yang sering kali menjadi pintu masuk bagi hubungan toksik.

Menjaga Batas dan Teritori Diri

Dalam obrolan ini, Ibu Inun melanjutkan percakapan yang menyatakan bahwa hubungan toksik alias hubungan yang tidak sehat seringkali muncul karena kita memberikan ruang bagi orang lain untuk menjajah diri kita.

"Hubungan toksik itu kan enggak muncul dengan sendirinya. Ketika perempuan itu atau wanita, anak gadis, anak Gen Z memberi ruang kepada yang lain untuk menjajah kedirian dirinya. Siapa sumbernya? Dirinya sendiri,” tambahnya.

Kesadaran mencintai diri atau self-love perlu dimulai dengan menjaga teritori diri, baik secara fisik, psikologis, maupun spiritual. Beliau juga menegaskan beberapa prinsip: be yourself, be kind to yourself. Prinsip-prinsip ini sebagai tindakan nyata untuk melindungi hak-hak dasar sebagai manusia.

Selain itu, ketika perempuan terjebak dalam standar yang ditentukan oleh pihak luar, misalnya harus selalu cantik, patuh, dan hanya mengurusi urusan domestik rumah tangga, bukan berarti perempuan hanya bergelut dalam bidang tersebut.

Ibu Inun mengingatkan cara menemukan jati diri perempuan adalah menjadi perempuan yang memiliki kebijaksanaan (wisdom) yang selanjutnya menyadari bahwa kualitas hidup seharusnya muncul dari kesadaran diri, bukan ditentukan, atau bahkan dipaksa oleh orang lain.


Prinsip yang Sering Dilupakan: Keseimbangan Hubungan

Salah satu poin penting dalam diskusi ini adalah konsep equilibrium atau keseimbangan. Mengadopsi yin dan yang, ia menjelaskan bahwa hubungan sehat itu jangan sampai menghadirkan sosok superior dan inferior karena akibatnya dapat membuat suatu hubungan retak.

"Ketika dikotomi kemanusiaan itu dibagi menjadi dua, itulah yang kemudian menjadi problem. Problemnya adalah ketika ada superior dan inferior, maka semuanya akan menjadi timpang,” ujarnya.

Sebaiknya, dalam pernikahan atau hubungan berpasangan, tidak diwajarkan adanya salah satu pihak yang mendominasi. Inilah pentingnya membangun hubungan yang harmonis untuk menciptakan hubungan yang jauh dari keretakan dan hubungan toksik.

Jadi, bagaimana cara membangun keseimbangan hubungan yang harmonis?

Ibu Inun menjawab pertanyaan ini dengan menyoroti pentingnya kesepakatan nilai sebelum melangkah lebih jauh. Karena sering kali, perjanjian pranikah hanya fokus pada urusan harta, padahal yang jauh lebih krusial adalah kesepakatan visi dan nilai hidup bersama.

Peran Perempuan dalam Spiritualitas

Dalam kacamata spiritualitas, perempuan dipandang sebagai tajalli jamaliah. Bagaimana maksudnya? Yaitu perempuan sebagai perwujudan sifat keindahan Tuhan dalam bentuk feminin.

“Bumi itu diinjak, dibumi hanguskan, tapi yang tumbuh apa? Kehidupan". Perempuan memiliki kapasitas inheren untuk merawat dan menstabilkan kehidupan melalui cinta kasih yang tanpa syarat,” imbuhnya.

Hal ini selaras dengan konsep trilogi hubungan yang didampaikan oleh Ibu Inun bahwa Tuhan, manusia, dan lingkungan merupakan bagian dari prinsip hubungan yang sehat. Dengan menanamkan kesadaran tauhid, segala sesuatu yang kita dapati berasal dari Tuhan dan suatu saat nanti kita akan kembali kepada-Nya.

Lalu, bagaimana agar perempuan tidak terjebak dalam hubungan yang merusak? Di dalam obrolan podcast ini, Ibu Inun memberikan nasihat yang jelas: bangunlah kapasitas diri. Jangan berhenti belajar, perluas wawasan, dan kelilingi diri dengan komunitas yang mendukung pertumbuhan.

Ketika kita sadar bahwa tidak ada manusia yang sempurna, kita akan lebih bijak dalam memilih pasangan dan menjaga ekspektasi. Mencintai pasangan bukan berarti menutup mata terhadap kesalahannya, melainkan dengan semangat cinta yang menyempurnakan yang tidak sempurna.

Yuk, dengarkan lebih lanjut obrolannya dalam Podcast Women Talk Episode 4. Klik di sini!

Tags:
  • Share: