Memasuki bulan Rabiul Awal, suasana Maulid Nabi mulai terasa di berbagai tempat. Shalawat kembali menggema, kisah Rasulullah SAW dibacakan, dan majelis-majelis ramai dihadiri umat yang ingin mengenang sosok yang begitu mereka cintai.
Di tengah suasana seperti ini, ada satu pertanyaan sederhana yang layak kita ajukan kepada diri sendiri: sudah sejauh mana cinta kepada Rasulullah hadir dalam kehidupan kita?
Cinta kepada nabi tentu tidak berhenti pada ucapan shalawat atau semaraknya peringatan maulid, tetapi juga tercermin dalam akhlak sehari-hari. Bagaimana kita berbicara, memperlakukan orang lain, menahan amarah, memaafkan kesalahan, dan bersikap ketika menghadapi sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan.
Mungkin, di situlah peringatan maulid menemukan maknanya. Kita mengenang Rasulullah SAW sekaligus melihat kembali diri sendiri: akah sedikit dari akhlak beliau yang sudah tumbuh dalam diri kita?
Karena itu, mari kita memaknai kembali sedikit demi sedikit dalam tulisan artikel yang mudah-mudahan menjadi sarana kita merefleksikan perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Cinta Kepada Nabi Bukan Hanya Diucapkan Tapi Dilakukan
Cinta yang sebenarnya selalu mendorong seseorang untuk mengikuti yang dicintainya. Ketika kita mengagumi seseorang, secara alami kita ingin meniru kebaikan yang ada dalam dirinya dan menjadikannya sebagai teladan.
Begitu pula dengan cinta kepada Rasulullah SAW. Mencintai beliau berarti berusaha mengikuti ajarannya, meneladani akhlaknya, serta menghadirkan nilai-nilai yang beliau ajarkan dalam kehidupan sehari-hari.
Al-Qur'an bahkan memberikan ukuran yang jelas tentang cinta kepada Allah. Allah SWT berfirman dalam QS. Ali 'Imran ayat 31:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta bukan hanya persoalan pengakuan. Ada tindakan yang menjadi bukti dari cinta tersebut, yaitu mengikuti Rasulullah SAW. Karena itu, maulid dapat menjadi momentum untuk bertanya: apakah akhlak Nabi semakin terlihat dalam diri kita?
Salah satu teladan Rasulullah SAW yang paling dekat dengan kehidupan sehari-hari adalah akhlaknya. Aisyah ra. menggambarkan beliau sebagai sosok yang tidak berkata keji, tidak suka membuat keributan, tidak membalas keburukan dengan keburukan, tetapi memilih memaafkan dan berlapang dada.
Teladan ini terasa semakin relevan hari ini. Ketika perbedaan pendapat mudah berubah menjadi pertengkaran, ketika komentar di media sosial begitu mudah melukai orang lain, kita justru membutuhkan kembali akhlak nabi, mulai dari menjaga lisan, menahan amarah, dan tidak terburu-buru membalas keburukan.
Meneladani Rasulullah juga berarti belajar menjadi pribadi yang ringan tangan. Ibnu Abbas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia yang paling dermawan, bahkan kedermawanannya semakin besar pada bulan Ramadhan. (HR. Bukhari dan Muslim).
Kedermawanan tidak selalu berarti memberikan sesuatu dalam jumlah besar. Membantu orang yang sedang kesulitan, berbagi rezeki, memberi waktu untuk mendengarkan, atau sekadar meringankan beban seseorang juga merupakan bentuk kepedulian yang sangat berarti.
Jadikan Maulid sebagai Momentum untuk Berubah
Sudahkah kita membawa sedikit demi sedikit akhlak Rasulullah SAW ke dalam kehidupan kita?
Sudahkah lisan kita lebih santun kepada keluarga? Sudahkah kita lebih mampu menahan amarah? Sudahkah kita lebih mudah memaafkan? Sudahkah tangan kita lebih ringan membantu? Dan sudahkah kita mampu menghargai orang lain meskipun berbeda dengan kita?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu mungkin jauh lebih penting daripada sekadar bertanya seberapa meriah maulid yang kita rayakan. Sebab, tujuan mengenang Rasulullah SAW bukan hanya agar kita mengetahui kisah hidup beliau, tetapi agar keteladanan beliau memberi pengaruh pada cara kita menjalani kehidupan.
Tidak ada manusia yang langsung mampu meneladani seluruh akhlak Rasulullah SAW dengan sempurna. Karena itu, perubahan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kita bisa memulainya dari satu kebiasaan kecil. Mengurangi ucapan yang menyakiti, menahan diri ketika marah, atau menyisihkan sebagian rezeki untuk membantu sesama.
Bulan maulid akhirnya menjadi kesempatan untuk mempertemukan shalawat dengan perubahan, antara rasa cinta dengan keteladanan, dan antara kekaguman kepada Nabi dengan akhlak nyata dalam kehidupan.
Allah berfirman dalam QS. Al-Ahzab ayat 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Semoga Maulid Nabi tahun ini tidak hanya membuat kita semakin banyak bershalawat, tetapi juga semakin lembut dalam berbicara, lapang dalam memaafkan, ringan dalam membantu, dan tulus dalam menghargai orang lain.