Al-Razi yang bernama lengkap Abu Bakar Muhammad ibn Zakariya, yang di Barat lebih dikenal dengan Razes, lahir di Rey sebelah selatan Iran, pada tahun 250 H/854 M-313 H/925 M.
Ia belajar ilmu-ilmu kedokteran di bawah asuhan Ali ibn Sahl Rabban al-Tabari, seorang dokter dan filsuf terkenal pada zamannya. Razi mulai populer ketika ia memimpin Rumah Sakit Rey, sebuah rumah sakit percontohan dan banyak dijadikan rujukan dari berbagai negara.
Al-Razi kemudian meninggalkan Rey pindah ke Bagdad dan di sana ia memimpin Rumah Sakit Baghdad di bawah pemerintahan Khalifah Muktafi. Setelah Khalifah pengagum Al-Razi ini meninggal (295 H/907 M) maka Al-Razi kembali ke Rey memimpin sekolah tinggi ilmu kedokteran.
Dari sinilah Al-Razi semakin harum namanya sebagai ahli kedokteran, filsuf, ahli kimia, biologi, fisika, dan juga sebagai ulama yang memahami ilmu fikih. Yang menarik dari Al-Razi ialah sebelum terkenal sebagai dokter dan filsuf, ia sudah dikenal sebagai seniman yang mampu memainkan alat musik dan menciptakan syair.
Orisinalitas keilmuan Al-Razi banyak dipuji para ilmuan. Salah satu contoh unik yang pernah dilakukan ialah ketika Al-Razi diminta oleh raja Daulah bin Buwaihi untuk mendirikan rumah sakit di Bagdad, maka ia meminta dipotongkan seekor kambing, lalu dagingnya ditebar dan digantung ke berbagai tempat di Bagdad.
Empat hari kemudian dikontrol daging tersebut lalu ditentukan di mana daging paling awet dan paling lambat membusuk di situlah dibangun rumah sakit. Rumah sakit yang diberi nama Adhudi ini dibangun dengan anggaran yang amat mahal ketika itu.
Rumah sakit yang pernah dipimpin Al-Razi dijadikan Rumah Sakit Percontohan. Di dalamnya bukan hanya dilengkapi dengan kamar-kamar pemeriksaan dan ruang rawat-inap pasien, tetapi juga dilengkapi dengan tidak kurang 24 dokter, perpustakaan yang menyimpan buku-buku kedokteran yang lengkap, apotek, gudang, dan dapur, serta kantin.
Rumah sakit ini dianggap yang paling pertama memenuhi standar rumah sakit modern dan sekaligus rumah sakit pendidikan pertama dalam sejarah rumah sakit. Yang menarik ialah rumah sakit ini menggratiskan pasien yang tidak mampu membayar tanpa membedakan pelayanannya.
Di antara karya-karya Al-Razi yang masyhur antara lain: Al-Hawi al-Kabir, Sbateh Elmeh Pezeshki (Proving the Science of Medicine), Kitab al Asrar (semacam pengantar ilmu kimia), Dar Amadi bar Elmh Pezeshki (Outcome of the Science of Medicine), dan Liber Experimentorum.
Di antara pikiran orisinal Al-Razi antara lain membahas pembagian zat ke dalam hewan, tumbuhan dan mineral, yang menjadi cikal bakal kimia organik dan kimia non-organik. Sirr al-Asrar (Ilmu tentang obat-obatan yang bersumber pada tumbuhan, hewan, dan galian, serta simbolnya dan jenis terbaik bagi setiap satu untuk digunakan dalam rawatan.
Al-Razi juga memuat ilmu dan peralatan yang penting bagi kimia serta apotek dan ilmu dan teknik pemprosesan kimiawi dengan menggunakan bahan dan zat lain, seperti air raksa, belerang (sulfur), arsenik, serta logam-logam lain seperti emas, perak, tembaga, timbal, besi, dll.
Di sini terlihat, bahwa selain ia seorang dokter yang amat piawai terhadap berbagai macam penyakit, ia juga tidak boleh dipandang enteng dalam soal filsafat dan ushuluddin (teologi Islam). Banyak tulisan-tulisannya di bidang filsafat dan teologi membuat kita tidak percaya kalau dia seorang dokter atau ahli kimia.