Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

26 Tahun Mengabdi: Menapak Jejak Panjang Al-Ikhlas Ujung Bone

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
18 Sep 2026, 14:38
Images

Di Desa Ujung, Kecamatan Dua Boccoe, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, sebuah gagasan tentang pendidikan tumbuh menjadi perjalanan panjang yang kini telah berlangsung lebih dari dua dekade.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone, yang didirikan pada 18 September 2000 atau 19 Jumadil Awal 1421 Hijriah. Pesantren ini digagas oleh pasangan H. Andi Muhammad Umar dan Hj. Bunga Tungke’ bersama putra mereka, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA.

Pendirian Al-Ikhlas berangkat dari perhatian para pendirinya terhadap kondisi pendidikan di tengah masyarakat. Berdasarkan sejarah yang dipublikasikan pesantren, lembaga ini lahir dari keprihatinan terhadap kualitas dan kuantitas pendidikan sekaligus keinginan untuk menghadirkan ruang belajar yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.

Lebih dari 25 tahun kemudian, bagaimana perjalanan gagasan tersebut hingga Al-Ikhlas terus berkembang dan melahirkan generasi yang membawa semangat pengabdian ke berbagai tempat? Simak selengkapnya dalam artikel ini.

Keprihatinan Atas Kemajuan Pendidikan

H. Andi Muhammad Umar dan Hj. Bunga Tungke telah puluhan tahun berprofesi menjadi seorang guru. Bahkan ketika pernah mendapat tawaran untuk menduduki jabatan sebagai kepala desa, keduanya memilih untuk tetap menjalankan pengabdian sebagai pendidik.

Bagi keduanya, menjadi guru bukan sekedar pekerjaan. Mengajar merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang telah dijalani selama bertahun-tahun.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Amerika Serikat dan kembali ke Indonesia, Nasaruddin Umar kemudian turut menggagas pembangunan pesantren di Ujung Bone agar kedua orang tuanya tetap dapat mengabdi sebagai guru. Dari pengabdian itulah gagasan Al-Ikhlas mulai menemukan bentuknya. 

Sebuah lembaga pendidikan dibangun bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat, tetapi juga menjadi ruang bagi keberlanjutan pengabdian keluarga melalui pendidikan.

Dimulai dari Tempat yang Sederhana

Pada awal berdiri, kegiatan belajar mengajar Pondok Pesantren Al-Ikhlas belum berlangsung di gedung milik sendiri. Kegiatan pendidikan sempat menumpang di Madrasah Diniah As’Adiyah. Fase tersebut menjadi bagian awal dari perjalanan Al-Ikhlas sebelum kemudian memiliki sarana pendidikan sendiri.

Pada tahun 2002, pesantren memperoleh bantuan dari Paguyuban Ikhlas Jakarta untuk memiliki gedung sendiri. Pada tahun yang sama, Pondok Pesantren Al-Ikhlas juga memperoleh pengakuan resmi dari pemerintah.

Perkembangan tersebut menjadi titik penting bagi pesantren yang baru beberapa tahun berdiri. Dari tempat belajar yang masih menumpang, Al-Ikhlas mulai memiliki ruang pendidikan yang dapat digunakan untuk mengembangkan kegiatan pesantren secara lebih luas. Dua tahun kemudian, mulai membuka penerimaan santri tingkat Madrasah Aliyah.

Perhatian terhadap aktivitas santri juga diperluas. Pada 2011, dilakukan peletakan batu pertama pembangunan gedung olahraga (GOR). Fasilitas tersebut menjadi bagian dari upaya menyediakan ruang bagi santri untuk mengembangkan diri melalui kegiatan di luar pembelajar akademik dan keagamaan.

Pendidikan Agama, Ilmu Umum, dan Seni

Seiring perkembangannya, Al-Ikhlas mengembangkan sistem boarding school dengan kurikulum paralel yang memadukan ilmu agama dan ilmu umum serta tetap mengacu pada kurikulum nasional. Kegiatan pendidikan juga berlangsung dengan sistem full day. 

Sejumlah program kepesantrenan dikembangkan, mulai dari tahfizqiroatul qutub, halaqah kitab  kuning, hingga pengembangan muatan bahasa asing seperti Bahasa Arab dan Bahasa Inggris. 

Seni juga mendapat tempat dalam kehidupan pesantren. Selaku tokoh penting di balik berdirinya Al-Ikhlas, Prof. Nasaruddin Umar menjelaskan bahwa hati santri dapat terasa kering apabila tidak memperhatikan seni. Karena itu, selain spiritualitas sebagai fondasi, pendidikan di Al-Ikhlas juga memberikan ruang bagi pengembangan seni Islam, seni membaca Al-Qur’an, seni suara, dan tari-tarian.

Pandangan tersebut menjadi salah satu ciri pendidikan Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone. Santri tidak hanya diarahkan untuk memahami ilmu, tetapi juga diberikan ruang untuk mengembangkan kreativitas dan kepekaan terhadap seni

Di tengah perkembangan teknologi, pesantren juga mengembangkan program literasi teknologi agar santri tidak gagap menghadapi perubahan zaman. Sehingga para santri tetap memiliki kesempatan untuk mengenal perkembangan teknologi dan memanfaatkannya dalam kehidupan mereka.

Prestasi adalah Tradisi Kami

Perjalanan Al-Ikhlas mulai menampakkan perkembangan lanjutannya dengan penguatan dalam pengelolaan lembaga. Yayasan Al-Ikhlas Ujung Bone memperoleh Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2015 dari United Register of Systems (URS) Certification.

Dalam pendidikan formal, Madrasah Aliyah Al-Ikhlas Ujung Bone juga memperoleh akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-SM) pada 2022. Sementara itu, Madrasah Tsanawiyah Al-Ikhlas Ujung Bone memperoleh akreditasi A pada 2024. Keduanya berjalan beriringan dengan perhatian terhadap lingkungan pengasuhan santri.

Pada 2025, Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone memperoleh penghargaan Pesantren Ramah Anak Sulawesi Selatan dalam kategori Sistem Pengasuhan Terbaik dari LP2M UIN Makassar, UNICEF, Kanwil Kemenag Sulawesi Selatan, dan DP3A Dalduk-KB Sulawesi Selatan.

Memasuki 2026, para santri Al-Ikhlas menorehkan prestasi hingga di tingkat nasional. Capaian tersebut hadir melalui berbagai bidang, mulai dari Duta Pelajar, Duta Lingkungan, hingga keberhasilan lolos Olimpiade Sains Nasional.

Ragam capaian tersebut memperlihatkan bahwa ruang pendidikan yang dibangun di Al-Ikhlas tidak hanya memberikan perhatian pada pembelajaran agama. Santri juga diberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan akademik, kepemimpinan, kepedulian terhadap lingkungan, serta berbagai potensi lainnya.

Mengabdi untuk Mencerdaskan Bangsa

Lebih dari 25 tahun berdiri, Pondok Pesantren Al-Ikhlas Ujung Bone terus melanjutkan perjalanan pengabdiannya di bidang pendidikan. Perjalanan ini berangkat dari semangat H. Andi Muhammad Umar dan Hj. Bunga Tungke dalam mendidik dan mengabdi kepada masyarakat.

Semangat tersebut kemudian diteruskan melalui gagasan Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA untuk menghadirkan lembaga pendidikan di kampung halaman. Dari Ujung Bone, Sulawesi Selatan, Al-Ikhlas tumbuh menjadi ruang pendidikan yang terus berkembang dan menjangkau lebih banyak daerah.

Kini, semangat pendidikan Al-Ikhlas hadir melalui sejumlah lembaga, antara lain Al-Ikhlas Lambuya Konawe, Sulawesi Tenggara; Al-Ikhlas Cikeusik, Banten; Al-Ikhlas Assalam, Kota Tangerang, Banten; Al-Ikhlas Bulungan, Kalimantan Utara; Al-Ikhlas Buton, Sulawesi Tenggara; Al-Ikhlas Mamuju, Sulawesi Barat; serta Tadabbur Alam Retreat Center Al-Ikhlas Cianjur, Jawa Barat.

Dari Ujung Bone, perjalanan itu terus berlanjut. Santri datang untuk belajar dan tumbuh, lalu membawa ilmu, pengalaman, dan nilai yang mereka dapatkan untuk melanjutkan pengabdian di berbagai tempat.

Semoga Al-Ikhlas terus menjadi ruang tumbuh bagi generasi yang berilmu, berkarakter, dan siap memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan. 

Tags:
  • Share: