Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Ungkap Prasangka di Podcast, Tokoh Konghucu ini Tunjukkan Indahnya Toleransi di Indonesia

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
29 Oct 2026, 16:44
Images

Meski dikelilingi oleh masyarakat yang beragam, kita sering kali masih terkotak-kotak oleh berbagai prasangka, stereotip, serta jarangnya ruang untuk saling berjumpa dan berdiskusi antarpemeluk agama.

Lantas, apakah keberagaman keyakinan ini pasti selalu memicu gesekan dan perselisihan? Bagaimana seandainya keberagaman latar belakang yang kita punya justru dapat menciptakan harmoni?

Hal inilah yang dikupas tuntas oleh tokoh Konghucu, Js Kristan dalam podcast Serambi Tengah episode 4 yang dipandu oleh Darul Ma’arif Asry di kanal YouTube Nasaruddin Umar Office.

Sosok yang mengisi di banyak ruang perjumpaan ini berpendapat bahwa solusi ampuh untuk meredam konflik terletak pada perjumpaan tatap muka dan pengalaman langsung.

Menurutnya, kedekatan secara personal sangat efektif untuk meruntuhkan rasa curiga yang kerapa dirasakan oleh masyarakat, terlebih dibesar-besarkan oleh pengaruh luar.

Tulisan ini akan merangkum perjumpaan itu mengenai perspektif Js Kristan selaku tokoh Konghucu yang menekankan kerukunan hidup berdampingan di Indonesia bukanlah hal yang mustahil, melainkan sebuah keniscayaan.

Memahami Makna Agama

Salah satu pertanyaan yang muncul dalam podcast ini adalah bagaimana Konghucu sebenarnya dipandang dalam konteks sosiologis dan teologis di Indonesia.

Pasalnya, kita kerap memahami Konghucu sebagi satu di antara enam agama resmi di tanah air. Selain itu, ada cara pandang masyarakat yang sering kali dipaksa menggunakan standar tradisi Abrahamik.

Menurut Js Kristan, secara historis, kepercayaan Konghucu telah resmi berdiri sejak zaman kolonial Belanda.

“Konghucu itu dari Indonesia merdeka, dari zaman kolonial Hindia Belanda, itu organisasinya resmi, bahkan dapat akte dari pemerintah Belanda sampai tahun sebelum kejadian G30S/PKI,” ujarnya.

Lebih lanjut, di Tiongkok, ajaran Konghucu diposisikan sebagai jalan hidup (way of life) atau ajaran (chiao) yang sangat pragmatis dan berorientasi pada pembinaan diri (self cultivation).

Selain itu, ketika banyak orang mempertanyakan eksistensi keimanan Konghucu, Js Kristan mengingatkan bahwa inti dari ajaran ini adalah bagaimana manusia menjalankan kebajikan dan mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui laku hidup yang bajik.

Menghapus Prasangka dan Membangun Keseimbangan 

Diskusi ini juga menyoroti bagaimana prasangka (prejudice) dan stereotip negatif sering kali merusak keharmonisan antarumat. Padahal, hakikat ketuhanan dalam ajaran Konghucu sebenarnya meyakini bahwa hanya ada satu Tuhan atau monoteistik. 

"Dilihat tiada nampak, didengar tiada terdengar, namun tiap wujud tiada yang tanpa Dia. Itu adalah gambaran dari definisi Tuhan," ungkapnya.

Begitu pula dengan tradisi penghormatan kepada para tokoh atau leluhur di kelenteng. Js Kristan menjelaskan bahwa itu bukanlah bentuk peribadatan kepada dewa-dewi, melainkan bentuk penghormatan (memorial temple) atas jasa besar mereka bagi kemanusiaan.

Oleh karena itu, dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, kita harus menghindari sikap superioritas antarkelompok maupun polarisasi yang memecah belah. Di sinilah pentingnya menghadirkan ruang dialog yang setara serta inklusif.

Lantas, bagaimana cara mewujudkan keseimbangan dan keharmonisan sosial tersebut?

Menurut Js Kristan, kuncinya terletak pada penguatan kebersamaan di tingkat akar rumput. Sebagai bukti nyata, banyak kelenteng tua di Jawa Barat yang secara rutin ikut memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. 

Fakta ini mencerminkan betapa kuatnya kedekatan budaya serta perpaduan tradisi (hybrid culture) yang terjalin secara alami di tengah masyarakat.

Tantangan Terbesar Merawat Perdamaian

Memasuki era modern, menjaga kedamaian menghadapi tantangan besar berupa maraknya ujaran kebencian berbau agama (religious hate speech) di media sosial diprovokasi oleh pihak-pihak tak bertanggung jawab. Kendati demikian, platform digital ini pun berpotensi menjadi wadah kebaikan lewat kerja sama konten antarumat beragama.

Hal tersebut terlihat dari kolaborasi kreatif Js Kristan bersama tokoh lintas iman, seperti Habib Jafar, Banthe Dhirapunno, dan figur publik lainnya. Pesan-pesan perdamaian yang disampaikan mampu menembus jutaan anak muda melalui cara pendekatan yang santai tapi tetap menyentuh akar permasalahan.

Lantas, langkah apa yang harus diambil agar kita terhindar dari lingkaran konflik yang destruktif? Menjawab hal tersebut, Js Kristan menyampaikan pesan bermakna dalam obrolan podcast ini.

“Jangan mengutuk kegelapan, tetapi nyalakanlah lilin kebaikan. Mari mulai dari hal-hal kecil, perkuat sinergi antara warga dan negara, serta konsisten merawat ruang-ruang perjumpaan demi kokohnya persatuan bangsa,” pungkasnya.

Mari dengarkan lebih lanjut obrolannya dalam Serambi Tengah Episode 4. Klik di sini!



 

Tags:
  • Share: