Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Kapan Waktu Mustajab di Hari Jumat?

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
11 Sep 2026, 13:34
Images

Hari Jumat selalu punya tempat istimewa bagi kita sebagai umat Islam. Waktunya datang setiap pekan, tetapi keutamaannya sering kali kita jalani seperti hari biasa. Padahal, ada banyak kesempatan untuk memperbanyak ibadah, doa, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Salah satu yang membuat hari Jumat begitu istimewa adalah adanya waktu mustajab, yaitu satu waktu yang sangat singkat ketika doa seorang Muslim berpeluang besar dikabulkan oleh Allah SWT. 

Waktu itu sengaja dirahasiakan, sehingga kita tidak mengetahui secara pasti kapan tepatnya datang. Seperti takdir ataupun jawaban dari doa-doa yang setiap hari kita panjatkan, kita tidak ada yang tahu selain Allah yang Maha Mengetahui.

Mungkin justru di situlah letak pelajarannya. Kita diajak untuk tidak hanya berdoa pada satu waktu yang kita anggap istimewa, tetapi menghidupkan hari Jumat dengan doa dan amal kebaikan.

Kapan waktu mustajab itu? Rasulullah SAW memberikan beberapa petunjuk melalui hadis-hadisnya. Meski waktunya tidak disebutkan secara pasti, ada beberapa waktu yang dianjurkan untuk kita manfaatkan dengan memperbanyak doa.

Pesan Langsung dari Rasulullah SAW

Rasulullah SAW menyampaikan bahwa pada hari Jumat terdapat satu waktu yang apabila seorang Muslim berdoa kepada Allah, doanya akan dikabulkan. Dalam hadis riwayat Bukhari, Nabi menggambarkan waktu tersebut sebagai waktu yang sangat singkat.

‘Pada hari Jum’at terdapat dua belas jam (pada siang hari), di antara waktu itu ada waktu yang tidak ada seorang hamba muslim pun memohon sesuatu kepada Allah melainkan Dia akan mengabulkan permintaannya. Oleh karena itu, carilah ia di akhir waktu setelah ‘Ashar. (HR. Abu Dawud).

Dalam riwayat Muslim, terdapat keterangan mengenai waktu antara imam duduk di atas mimbar hingga shalat Jumat selesai. Sementara hadis riwayat Abu Dawud dan An-Nasa'i menyebut adanya waktu yang dicari pada penghujung hari setelah Ashar, menjelang matahari terbenam.

Lalu bagaimana kita berdoa ketika khutbah sedang berlangsung, sementara kita diwajibkan untuk diam dan mendengarkan?

Syekh Jalaluddin Al-Bulqini memberikan jalan yang sederhana: doa tidak harus diucapkan dengan suara. Kita dapat memanjatkan keinginan kepada Allah dalam hati dengan penuh kekhusyukan, sembari tetap menjaga adab mendengarkan khutbah.

Dengan begitu, kita tidak melewatkan kesempatan hanya karena terlalu sibuk mencari satu waktu tertentu.

Hakikat Mencari Waktu Mustajab di Hari Jumat

Ada pelajaran yang lebih dalam dari dirahasiakannya waktu mustajab pada hari Jumat.

Dalam kitab Nasha'ihul 'Ibad, Syekh Nawawi Banten menjelaskan sejumlah perkara yang sengaja dirahasiakan Allah SWT. Di antaranya adalah keridhaan Allah dalam ketaatan, murka-Nya dalam kemaksiatan, Lailatul Qadar, wali Allah di tengah manusia, waktu kematian, shalat wustha, Ismul A'zham, waktu mustajab pada hari Jumat, serta al-sab'u al-matsani.

Keridhaan Allah dirahasiakan agar kita tidak hanya bersungguh-sungguh pada satu bentuk ketaatan. Murka Allah terhadap maksiat juga dirahasiakan agar kita tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.

Begitu juga dengan waktu mustajab pada hari Jumat. Kerahasiaannya justru menjadi alasan bagi kita untuk memperbanyak doa.

Kita mungkin tidak tahu kapan waktu itu tiba. Bisa jadi saat membaca Al-Qur'an, setelah shalat, ketika bershalawat, setelah bersedekah, atau menjelang Maghrib. 

Karena itu, daripada menghabiskan Jumat dengan aktivitas yang sama seperti hari-hari lainnya, mengapa tidak menjadikannya kesempatan untuk lebih banyak berbicara kepada Allah?

Barangkali doa yang selama ini kita panjatkan belum menemukan jawabannya. Barangkali pula, kita sedang diminta untuk lebih sabar menunggu waktu terbaik menurut Allah.

Tags:
  • Share: