Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Jangan Takut Krisis Pangan, Nabi Yusuf AS Mengajarkan Cara Menghadapinya

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
08 Sep 2026, 14:42
Images


Krisis pangan terdengar seperti persoalan yang mengancam. Ketika harga pangan meningkat, hasil pertanian terganggu, atau ancaman paceklik muncul, ketahanan pangan menjadi salah satu perhatian penting dalam kehidupan masyarakat.

Namun, jauh sebelum istilah ketahanan pangan dikenal, Al-Qur’an telah mengisahkan bagaimana sebuah negeri menghadapi ancaman krisis pangan melalui Nabi Yusuf AS.

Kisah tersebut bermula dari mimpi Raja Mesir. Sang raja melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus. Ia juga melihat tujuh bulir gandum yang hijau dan tujuh lainnya yang kering.

Tidak ada yang mampu memberikan penjelasan atas mimpi tersebut hingga Nabi Yusuf AS menafsirkannya. Tujuh sapi betina yang gemuk dan tujuh bulir gandum yang hijau menjadi pertanda akan datangnya tujuh tahun masa subur, yang kemudian disusul tujuh tahun masa paceklik.

Namun, Nabi Yusuf AS tidak berhenti pada penafsiran. Ia juga memberikan langkah untuk menghadapi masa yang akan datang.

Bermula dari Tafsir Mimpi Raja Mesir

Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf ayat 47:

قَالَ تَزْرَعُوْنَ سَبْعَ سِنِيْنَ دَاَبًاۚ فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوْهُ فِيْ سُنْۢبُلِهٖٓ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تَأْكُلُوْنَ

Artinya: “(Yusuf) berkata, “Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan.”

Ayat tersebut menunjukkan bahwa menghadapi masa sulit membutuhkan persiapan sejak masa lapang.

Ketika produksi pangan masih melimpah, hasil pertanian tidak seluruhnya langsung dikonsumsi. Sebagian disimpan untuk menghadapi masa paceklik yang telah diperkirakan akan datang.

Dari kisah tersebut, setidaknya terdapat beberapa langkah penting yang dilakukan Nabi Yusuf AS.

1. Memaksimalkan Produksi

Langkah pertama adalah memanfaatkan masa subur dengan sebaik-baiknya. Nabi Yusuf AS mengusulkan agar masyarakat bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut.

Produksi pangan perlu dioptimalkan ketika kondisi masih memungkinkan. Masa kelimpahan tidak hanya menjadi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga untuk mempersiapkan kebutuhan di masa depan.

2. Mengendalikan Konsumsi

Hasil panen yang diperoleh tidak seluruhnya dikonsumsi. Nabi Yusuf AS mengingatkan agar masyarakat mengambil secukupnya untuk kebutuhan makan dan menyimpan sisanya.

Dengan demikian, pengelolaan pangan tidak hanya berbicara tentang seberapa banyak yang dihasilkan, tetapi juga bagaimana hasil tersebut digunakan untuk menghadapi kemungkinan kekurangan pada masa mendatang.

3. Membangun Cadangan Pangan

Hasil pertanian yang tersisa kemudian disimpan sebagai persediaan. Cadangan tersebut dipersiapkan untuk menghadapi tujuh tahun masa paceklik.

Di sinilah pentingnya memikirkan pangan bukan hanya untuk kebutuhan saat ini. Ketika masa sulit tiba, persediaan yang telah disiapkan sebelumnya dapat menjadi penopang kehidupan masyarakat.

4. Menyiapkan Diri untuk Masa Krisis

Ketika masa paceklik benar-benar tiba, hasil panen yang telah disiapkan dapat dimanfaatkan.

Artinya, kisah Nabi Yusuf AS memperlihatkan menghadapi krisis bukan hanya dilakukan ketika krisis sudah terjadi. Persiapan justru dimulai jauh sebelumnya, ketika keadaan masih memungkinkan untuk menghasilkan dan menyimpan pangan

Apakah Strategi ini Masih Relevan di Zaman Modern?

Kisah Nabi Yusuf AS tentu berlangsung dalam konteks masyarakat dan kondisi yang berbeda dengan kehidupan kita hari ini. Namun, prinsip yang terkandung di dalamnya masih dapat menjadi bahan refleksi.

Persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan produksi pertanian. Ketahanan pangan melibatkan rangkaian yang saling terhubung. Mulai dari tanah, air, dan benih, hingga petani, panen, distribusi, dan bagaimana pangan tersebut dikonsumsi.

Setiap bagian memiliki peran penting. Tanah yang subur membutuhkan air yang cukup. Produksi membutuhkan benih dan petani. Hasil panen kemudian perlu dikelola dan didistribusikan agar dapat sampai kepada masyarakat.

Karena itu, ketahanan pangan tidak cukup dipahami sebagai persoalan bagaimana menghasilkan makanan dalam jumlah banyak. Ada persoalan bagaimana sumber daya pertanian dikelola, bagaimana hasilnya disimpan dan didistribusikan, serta bagaimana masyarakat mengonsumsinya.

Pangan Bukan Hanya Komoditas

Lebih jauh, Al-Qur’an juga mengajarkan bahwa hasil bumi tidak semata-mata merupakan komoditas yang dapat dimanfaatkan manusia.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُسْرِفُوْاۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَۙ

Artinya: “...janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-An’am: 141).

Ayat tersebut ketika dikaitkan dengan persoalan pangan, memiliki hubungan yang erat dengan kehidupan manusia, sehingga cara manusia memperlakukan hasil bumi juga berkaitan dengan tanggung jawab terhadap sesama dan masa depan.

Untuk itu, membangun ketahanan pangan bukan sekadar mengejar produksi. Di dalamnya terdapat nilai amanah, keadilan, keberlanjutan, dan kepedulian terhadap masa depan.

Dan apa yang kita hasilkan hari ini perlu dikelola dengan bijak agar tetap memberikan manfaat, bukan hanya bagi kita sekarang, tetapi juga bagi mereka yang akan datang.

Dari kisah Nabi Yusuf AS yang telah kita pelajari di atas memberikan satu pelajaran penting bahwa masa kelimpahan adalah kesempatan untuk mempersiapkan diri menghadapi masa sulit.

Ketahanan pangan pun tidak dibangun dalam satu malam. Ada tanah yang harus dijaga, air yang perlu dikelola, petani yang perlu didukung, hasil panen yang harus dimanfaatkan dengan baik, hingga distribusi dan konsumsi yang perlu diperhatikan.

Tags:
  • Share: