Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Krisis Lingkungan, Apa Kata Islam? Mengenal Ekoteologi bersama Faried F. Saenong

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
16 Oct 2026, 11:20
Images

Bagi sebagian orang, persoalan lingkungan mungkin lebih dekat dengan urusan sains, kebijakan publik, atau gerakan pelestarian alam. Padahal, agama juga memiliki peran penting dan memerintahkan manusia untuk merawat bumi.

Gagasan inilah yang menjadi topik menarik dalam Podcast Serambi Tengah Episode 3 bersama Faried F. Saenong, selaku narasumber dan Koordinator Staf Khusus Menteri Agama RI.

Ekoteologi menjadi salah satu program prioritas Kementerian Agama RI melalui Asta Protas. Menariknya, konsep pemikiran ini tidak muncul secara tiba-tiba. Secara lebih mendalam, ekoteologi menggabungan unsur keagamaan dengan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Seperti apa nilai-nilai agama dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab kita selaku manusia? Kita akan membahas selengkapnya melalui artikel ini!

Dari Perjalanan Spiritual Menuju Ekoteologi

Menurut Faried, gagasan ekoteologi berkaitan erat dengan perjalanan intelektual dan spiritual sosok Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA. Pengalaman beliau sebagai ulama, akademisi, dan Imam Besar Masjid Istiqlal turut membuka pandangan masyarakat memahami hubungan antara manusia, Tuhan, dan alam.

Ia menjelaskan bahwa pemahaman terhadap syariat dan praktik ibadah menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. 

“Beliau berangkat dari ranah santri, ketika mendalami tafsir orientasinya terhadap syariat sangat kuat. Namun, tasawuf juga berbicara tentang substansi, hubungan Tuhan dengan manusia, serta keterhubungan keduanya yang harus dijaga,” ujarnya.

Dalam perspektif tasawuf, manusia dan alam merupakan bagian dari ciptaan Allah yang memiliki keterhubungan. Manusia sebagai mikrokosmos mencerminkan unsur-unsur alam semesta, sedangkan alam sebagai makrokosmos menjadi ruang bagi manusia untuk mengenali tanda-tanda kebesaran Allah.

Dari sinilah ekoteologi mendapatkan konteksnya. Saat kita peduli terhadap alam, tindakan ini tidak berhenti sebatas kepedulian sosial, tetapi juga menjadi bagian dari cara kita mengamalkan nilai-nilai keagamaan terhadap alam sebagai kebesaran-Nya.

Pemahaman tersebut kemudian tumbuh dengan perhatian terhadap gender dan lingkungan. Faried sempat berkata mengenai ekofeminsime, yaitu upaya menjaga lingkungan serta menghargai kearifan dalam relasi laki-laki dan perempuan.

Mengapa Krisis Lingkungan Perlu Dibicarakan melalui Agama?

Bagi Faried, salah satu tantang terbesar adalah membangun kesadaran masyarakat tentang skala dampak persoalan lingkungan. Banjir, kebakaran hutan dan lahan, hingga perpindahan penduduk akibat kondisi lingkungan yang semakin sulit, merupakan dampak yang nyata.

Ia membandingkan perhatian publik terhadap konflik dan peperangan dengan perhatian terhadap krisis lingkungan.

“Ketika membicarakan berbagai peperangan di dunia, angka korban sekitar 400 ribu jiwa sering kali menjadi perhatian. Padahal, korban akibat persoalan lingkungan, seperti pemanasan global, kekeringan, banjir, dan perpindahan penduduk (displacement), mencapai jutaan jiwa setiap tahunnya,” jelasnya.

Karena itu, pendekatan keagamaan menjadi penting. Masyarakat dapat diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan semata-mata ikut kampanye atau kebijakan pemerintah, inilah bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual.

Pendekatan ini juga memperluas pengetahuan kita tentang ibadah. Jika ibadah dipandang sebagai pengabdian kepada Allah, maka tindakan yang menjaga keberlangsungan hidup dapat menjadi bagian dari pengalaman nilai-nilai keagamaan.

Faried juga mengingatkan adanya ajaran Nabi Muhammad SAW yang mendorong umat Islam untuk tetap menanam ketika memiliki kesempatan, bahkan dalam situasi sempit sekali pun. 

Salah satu contohnya adalah menanam pohon yang memiliki nilai dengan manfaat langsung bagi orang yang melakukannya. Pohon yang kita tanam hari ini memberikan manfaat besar bagi orang lain pada masa mendatang.

Prinsip ini dapat diterapkan dalam berbagai lingkungan, termasuk rumah, kampus, dan perkantoran. 

“Di UIN Tulungagung, ada penerapan kebijakan paperless untuk tugas akhir mahasiswa. Ini menarik karena jika diterapkan dalam skala satu angkatan, kita bisa menghemat penggunaan kertas dan menyelamatkan sejumlah pohon,” timpalnya.

Membawa Isu Lingkungan ke Ranah Global

Upaya membangun kesadaran ekologis juga membutuhkan peran tokoh agama. Menurutnya, imam masjid memiliki posisi strategis yang dapat menjangkau masyarakat secara langsung melalui ibadah.

Rumah ibadah dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan persoalan lingkungan melalui khotbah, kajian keagamaan, pendidikan, dan kegiatan sosial. Dengan begitu, masyarakat dapat memahami hubungan antara nilai agama dan tanggung jawab ekologis melalui bahasa yang akrab dengan kehidupan mereka.

Faried juga menekankan pentingnya melihat persoalan lingkungan dalam skala global. Indonesia memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem dunia, termasuk melalui upaya mencegah kebakaran hutan dan lahan serta melestarikan kekayaan alamnya.

Menurutnya, manusia perlu menyadari bahwa tindakan di satu wilayah dapat membawa dampak bagi masyarakat di wilayah lain. Kerusakan lingkungan tidak selalu berhenti pada batas administratif suatu negara, sebagaimana upaya pelestariannya juga dapat memberikan manfaat yang melampaui batas tersebut.

“Indonesia ini paru-paru dunia, kalau kita baik, dunia ikut merasakannya, kalau buruk dunia juga ikut merasakannya,” pungkasnya.

Simak pembahasan lengkap ekoteologi bersama Faried F. Saenong dalam Podcast Serambi Tengah Episode 3 di sini.

Tags:
  • Share: