Pagi berangkat bekerja, malam masih disibukkan dengan berbagai urusan yang belum selesai. Hari demi hari berlalu dengan ritme yang sama. Target pekerjaan kita terus bertambah, sementara waktu untuk keluarga, beristirahat, bahkan beribadah perlahan mulai berkurang.
Tidak sedikit orang akhirnya bertanya pada dirinya sendiri, sebenarnya kita hidup untuk bekerja, atau bekerja untuk hidup?
Di tengah kehidupan modern, tekanan semacam ini menjadi pengalaman banyak orang. Kita ingin memberikan yang terbaik dalam pekerjaan, tetapi di sisi lain juga ingin tetap menjaga hubungan dengan Allah SWT, keluarga, dan diri sendiri.
Lantas, apakah Islam memiliki panduan untuk menjalani kehidupan yang lebih seimbang? Mari kita temukan solusinya di artikel ini.
Carilah Keseimbangan, Bukan Memilih Salah Satunya
Di dalam agama Islam, ternyata Allah SWT telah mengenalkan sebuah prinsip yang disebut tawazun, yaitu sikap hidup yang seimbang, proporsional, dan tidak berlebihan.
Allah SWT berfirman:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
"Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qashash: 77).
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang Muslim tidak diminta meninggalkan dunia demi akhirat, ataupun tenggelam dalam urusan dunia hingga melupakan akhirat.
Sebaliknya, bekerja, belajar, berkarya, membangun keluarga, hingga berkontribusi kepada masyarakat dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang diridhai Allah SWT.
Dengan kata lain, Islam tidak mengajarkan memilih salah satunya, melainkan menjalankan keduanya secara seimbang.
Mengapa Tawazun Penting dalam Kehidupan?
Menjalankan prinsip tawazun bukan sekadar membuat hidup terasa lebih teratur. Lebih dari itu, keseimbangan ini membawa keberkahan dalam setiap aspek kehidupan.
Pertama, membantu kita semakin dekat kepada Allah SWT.
Kesibukan bukan alasan untuk menjauh dari ibadah. Justru melalui tawazun, setiap aktivitas dunia kita diarahkan agar menjadi jalan mendekat kepada Allah, bukan semakin menjauh dari-Nya.
Kedua, menghadirkan kebahagiaan sejati.
Kebahagiaan tidak hanya datang dari pencapaian karier atau materi. Ketika pekerjaan, ibadah, keluarga, dan waktu untuk diri sendiri berjalan selaras, hati kita akan lebih tenang dan hidup terasa lebih bermakna.
Ketiga, menghindarkan kita dari sikap berlebihan.
Ada orang yang begitu sibuk mengejar dunia hingga melupakan akhirat. Ada pula yang terlalu fokus pada ibadah tetapi mengabaikan tanggung jawab mencari nafkah dan memenuhi hak keluarganya. Melalui prinsip inilah, kita dapat mengatur priroritas yang tidak mengabaikan tujuan akhirat.
Menyeimbangkan Kehidupan dengan Cara Work-Life Barakah
Rasulullah SAW dalam suatu riwayat hadis telah bersabda:
“Kerjakanlah urusan-urusan duniamu seakan-akan engkau hidup untuk selama-lamanya, dan kerjakanlah urusan-urusan akhiratmu seakan-akan engkau mati esok.” (HR. Ibnu ‘Asakir).
Kalau istilah work-life balance yang kita tahu hanya menyeimbangkan pekerjaan dan kehidupan pribadi, work-life barakah dapat menjadi acuan kita menjalani kehidupan.
Seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW bahwa menjadi Muslim yang baik bukan berarti meninggalkan pekerjaan demi ibadah, tetapi saat kita bekerja secara halal, tidak melalaikan salat, tetap menghadirkan waktu untuk keluarga, dan memberi manfaat bagi sesama.
Misalnya, di pagi hari, mulailah aktivitas kita dengan meluangkan waktu untuk salat tahajud, salat subuh berjamaah, dilanjutkan membaca Al-Qur’an, dan berdzikir sebelum mengawali pekerjaan.
Memasuki siang hari, sempatkan waktu untuk makan siang dan beristirahat sejenak agar tubuh kembali bertenaga. Setelah itu, lanjutkan pekerjaan dengan penuh tanggung jawab hingga tiba waktu menunaikan salat Asar sebagai pengingat untuk kembali mendekat kepada Allah di tengah padatnya aktivitas.
Menjelang sore, awali dengan berdzikir petang, kemudian tunaikan salat maghrib dan isya tepat waktu. Luangkan waktu untuk makan malam bersama orang-orang terdekat, sebelum mengakhiri hari dengan beristirahat lebih awal agar tubuh siap menyambut aktivitas esok hari.
Bekerjalah secukupnya, bersyukurlah sebanyak-banyaknya, dan kejarlah akhirat semaksimal yang kita mampu. Sebab, ketika dunia dan akhirat berjalan beriringan, insyaAllah hidup akan terasa lebih tenang, lebih bermakna, dan penuh keberkahan.