Pertanyaan sederhana ini begitu akrab dalam keseharian kita. Namun, ada jawaban yang seolah sudah menjadi kebiasaan, belum makan kalau belum makan nasi.
Bagi banyak orang, makan terasa belum lengkap jika belum menyantap nasi. Sarapn, makan siang, hingga makan malam begitu lekat dengan nasi. Bahkan mi instan sekalipun kadang masih ditambah sesendok nasi supaya cukup kenyang.
Nasi seolah bukan lagi sekadar salah satu pilihan makanan, tetapi telah menjadi ukuran apakah seseorang sudah benar-benar makan. Padahal, negeri ini memiliki beragam sumber pangan lokal yang tak kalah mengenyangkan, seperti singkong, ubi, kimpul, dan berbagai pangan lainnya.
Jadi, apakah sejak dahulu masyarakat Nusantara hanya mengenal beras yang diolah menjadi nasi sebagai makanan pokok?
Artikel ini akan menjawab pertanyaan tersebut dan melihat kembali bagaimana Al-Qur'an mengisahkan Nabi Yusuf AS dalam prinsip ketahanan pangan untuk menghadapi ancaman krisis. Seperti apa kisah dan pelajarannya bagi kita hari ini? Baca selengkapnya dalam artikel berikut.
Beras Sudah Dikenal Ratusan Tahun Lalu
Masyarakat di berbagai wilayah Nusantara sebenarnya telah mengenal beras jauh sebelum nasi menjadi bagian yang begitu lekat dengan keseharian kita. Artinya, nasi bukanlah sesuatu yang baru dalam sejarah pangan masyarakat Nusantara.
Namun, perjalanan beras tidak hanya dikenal luas oleh masyarakat di berbagai wilayah. Dari beras yang dikelola para petani hingga menjadi kudapan di setiap meja makan memiliki sejarah yang panjang.
Puncaknya dapat kita lihat pada masa kolonial, khususnya di abad ke-19, ketika pemerintah kolonial menerapkan sistem tanam paksa (cultuurstelsel).
Dalam sistem tersebut, produksi pertanian digenjot untuk memenuhi berbagai kebutuhan kolonial, termasuk kebutuhan pangan. Beras menjadi salah satu bagian dari dinamika produksi pangan pada masa tersebut.
Seiring perjalanan waktu, beras kemudian semakin lekat dengan pola konsumsi masyarakat. Dari sini, nasi perlahan bukan hanya hadir sebagai makanan, tetapi juga menjadi bagian dari kebiasaan dan cara kita memaknai
Ketika Nasi Menjadi Ukuran “Sudah Makan”
Hari ini, nasi begitu mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Nasi hadir di meja makan keluarga, rumah makan, warung, hingga berbagai acara. Bahkan, muncul anggapan bahwa makanan tersebut belum cukup jika belum ditemani nasi.
Kebiasaan tersebut membuat nasi seolah menjadi standar untuk menyebut bahwa seseorang sudah makan. Di sisi lain, ada banyak sumber pangan yang sebenarnya telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Nusantara.
Sagu, jagung, singkong, ubi, talas, hingga kimpul merupakan contoh pangan yang tumbuh dan dikonsumsi di berbagai daerah.
Pangan-pangan tersebut bukan sekadar alternatif ketika nasi tidak tersedia. Di baliknya terdapat pengetahuan, kebiasaan, dan cara masyarakat memanfaatkan hasil bumi yang tumbuh di lingkungan mereka.
Ketika pola konsumsi semakin berpusat pada satu jenis pangan, pangan lokal pun berisiko semakin jarang hadir di meja makan.
Pangan Lokal Mulai Tersisih
Hilangnya keberagaman pangan bukan hanya berarti berkurangnya pilihan makanan. Ada hal-hal lain yang ikut dipertaruhkan.
Pertama, pengetahuan pangan lokal. Setiap pangan memiliki pengetahuan yang menyertainya, mulai dari cara menanam, mengolah, hingga mengonsumsinya. Ketika pangan tersebut semakin jarang digunakan, pengetahuan yang diwariskan antargenerasi juga dapat ikut berkurang.
Kedua, keberagaman hasil bumi. Indonesia memiliki kondisi geografis dan lingkungan yang beragam. Setiap daerah memiliki potensi pangan yang berbeda. Ketergantungan pada satu sumber pangan dapat membuat potensi tersebut tidak sepenuhnya dimanfaatkan.
Ketiga, potensi pertanian daerah. Pangan lokal dapat menjadi bagian dari kekuatan pertanian suatu wilayah. Ketika masyarakat mengenali dan mengonsumsi hasil bumi daerahnya, potensi tersebut memiliki ruang untuk terus dikembangkan.
Keempat, kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan. Tidak semua wilayah memiliki kondisi tanah, air, dan iklim yang sama. Keberagaman sumber pangan dapat menjadi salah satu cara untuk menyesuaikan kebutuhan pangan dengan karakter lingkungan masing-masing.
Belajar Ketahanan Pangan dari Al-Qur’an
Gagasan tentang keberagaman dan kesiapan menghadapi krisis juga dapat kita hubungkan dengan kisah Nabi Yusuf AS dalam Al-Qur’an.
Ketika menafsirkan mimpi Raja Mesir, Nabi Yusuf AS tidak hanya menjelaskan bahwa akan datang tujuh tahun masa subur yang kemudian disusul tujuh tahun masa paceklik. Beliau juga mengusulkan langkah untuk mempersiapkan masyarakat menghadapi masa sulit tersebut.
1. Memaksimalkan hasil
Mengoptimalkan sumber daya dan produksi ketika kondisi memungkinkan.
2. Mengonsumsi secukupnya
Mengelola hasil pangan dengan bijak dan tidak menghabiskannya sekaligus.
3. Menyiapkan cadangan
Menyimpan sebagian hasil untuk memenuhi kebutuhan ketika kondisi berubah.
4. Bersiap menghadapi masa krisis
Tidak menunggu krisis datang untuk mulai memikirkan ketahanan pangan.
Prinsip tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan membutuhkan perencanaan dan pengelolaan, bukan sekadar ketersediaan makanan pada hari ini.
Nasi boleh tetap menjadi pilihan. Tetapi, semakin beragam sumber pangan yang kita kenal dan manfaatkan, semakin besar pula kemampuan kita untuk beradaptasi dan menjaga ketahanan pangan di masa depan.
Allah SWT berfirman dalam QS. Yusuf ayat 48:
ثُمَّ يَأْتِيْ مِنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ سَبْعٌ شِدَادٌ يَّأْكُلْنَ مَا قَدَّمْتُمْ لَهُنَّ اِلَّا قَلِيْلًا مِّمَّا تُحْصِنُوْنَ
Artinya: “Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan.”
Ayat ini kembali menegaskan pentingnya persiapan dalam menghadapi masa sulit. Apa yang disimpan pada masa kelimpahan bukan sekadar cadangan, tetapi menjadi bekal untuk menjaga keberlangsungan kehidupan ketika kondisi berubah.
Dari kisah Nabi Yusuf AS, kita juga belajar bahwa ketahanan pangan tidak dibangun ketika krisis telah datang, tetapi dari cara kita memaksimalkan hasil, mengonsumsi secukupnya, menyiapkan cadangan, dan menjaga keberagaman sumber pangan.