Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Perbedaan Iman Tak Seharusnya Menghalangi Kemanusiaan

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
05 Oct 2026, 10:47
Images

Bagaimana rasanya menjadi seorang Muslim yang bekerja mendampingi orang-orang dari berbagai latar belakang agama dan keyakinan? Bukan untuk mengubah keyakinan mereka, melainkan hadir untuk mendengarkan, menenangkan, dan membantu mereka melewati masa-masa sulit.

Pengalaman tersebut dijalani Pudak Nayati, seorang chaplain asal Indonesia yang tinggal dan bekerja di Australia. Kisahnya menjadi salah satu pembahasan menarik dalam podcast Serambi Tengah yang dipandu Darul Maarif Asry pada 18 Agustus 2026 melalui kanal YouTube Nasaruddin Umar Office.

Bagi Pudak, chaplaincy merupakan pendampingan spiritual dan emosional yang membantu seseorang menghadapi persoalan hidup, menemukan kembali makna, serta memperoleh kekuatan untuk menjalani situasi yang sedang dihadapinya.

Ketertarikan Pudak pada dunia pelayanan dan pendampingan tumbuh dari kecintaannya berinteraksi dengan masyarakat sejak dini. Ia aktif dalam Indonesia Muslim Community of Victoria (IMCV), komunitas Muslim Indonesia di Victoria, Australia yang menaungi kegiatan pelayanan komunitas, termasuk dukungan keluarga dan program kesejahteraan sosial.

Perjalanan tersebut kemudian membawanya mengenal lebih jauh dunia chaplaincy. Menurut Pudak, menjadi seorang chaplain membutuhkan proses pendidikan dan pelatihan yang tidak singkat.

“Saat 2019 sebelum Covid, pada waktu itu perlu studi lapangan dan perlu sertifikasi juga. Saya dapat CPE 1 yang teoritis, CPE 2 lebih ke menulis academic essay tentang chaplain, dan berlanjut CPE 3,” ungkapnya.

Karena itu, chaplaincy bukan pekerjaan yang hanya mengandalkan kemampuan berbicara atau pengetahuan agama. Seorang chaplain juga perlu memiliki kemampuan mendengarkan, memahami kondisi orang lain, menjaga batas profesional, dan menghadapi persoalan yang sangat beragam.

Mendampingi Tanpa Menghakimi

Salah satu prinsip yang paling ditekankan Pudak dalam menjalankan tugasnya adalah tidak menghakimi ketika berhadapan dengan seseorang yang sedang berada dalam kondisi emosional.

Menurutnya, hal pertama yang perlu dilakukan bukan langsung memberikan nasihat atau dalil. Yang lebih penting adalah menciptakan rasa aman agar orang tersebut bersedia membuka diri.

“Kita baru bisa memberikan dalil kalau klien atau pasien kita sudah merasa tenang dan membuka diri dengan kita selaku chaplain. Jadi harus kita tenangkan secara emosional, mereka merasa didengarkan tanpa dihakimi,” ujar Pudak.

Prinsip tersebut menjadi semakin penting karena chaplain dapat bekerja di berbagai lingkungan, seperti rumah sakit, militer, sekolah, hingga universitas. Dalam konteks layanan kesehatan, chaplain bahkan menjadi bagian dari tim yang memberikan pendampingan kepada pasien, keluarga, maupun tenaga kesehatan.

Pekerjaan ini tentu berbeda dengan guru bimbingan konseling (BK) maupun profesi lain yang memiliki fungsi pendampingan. Chaplain memiliki fokus khusus pada kebutuhan spiritual dan persoalan makna, nilai, keyakinan, serta pengalaman batin seseorang.

Berhadapan dengan Luka dan Trauma

Menjadi chaplain juga berarti berhadapan dengan berbagai situasi yang tidak selalu mudah. Pudak bercerita tentang pengalamannya mendampingi pasien yang memiliki trauma dan sangat sensitif terhadap berbagai pemicu. Ia juga pernah menghadapi pasien yang memiliki kecenderungan untuk mengakhiri hidup.

Situasi seperti itu membutuhkan lebih dari hanya kemampuan memberikan nasihat. Seorang chaplain perlu mampu membaca situasi, membangun komunikasi yang tepat, memahami batas kemampuannya, sekaligus mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan dari tenaga profesional lain.

Bagi Pudak, mendengarkan bukan sekadar diam ketika orang lain berbicara. Mendengarkan berarti berusaha memahami pengalaman orang lain tanpa buru-buru memberikan penilaian.

Ketika ditanya bagaimana menjaga prinsip keagamaan tanpa menjadikan pelayanan sebagai sarana untuk menghakimi atau memaksakan keyakinan, Pudak memiliki jawaban yang tegas. Menurutnya, chaplaincy bukanlah bentuk dakwah.

“Karena chaplaincy itu bukan dakwah. Kita nggak boleh judgemental dan menghakimi,” katanya.

Bagi Pudak, tujuan utama pendampingan adalah membantu seseorang menjalani kehidupannya dengan lebih baik, baik secara fisik, mental, maupun spiritual.

Karena itu, seorang chaplain dituntut untuk mampu membangun hubungan emosional, menjembatani perbedaan, serta berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman hidup dan keyakinan yang berbeda.

Hal tersebut bukan berarti seorang chaplain harus melepaskan identitas agamanya. Justru, kemampuan untuk tetap teguh pada keyakinan sekaligus menghormati keyakinan orang lain menjadi bagian penting dari proses pendampingan.

Ketika Justru Kita yang harus Banyak Belajar

Lebih dari lima tahun menjalani profesi tersebut, Pudak menemukan satu hal yang mungkin tidak banyak dibayangkan orang. Dalam proses mendampingi orang lain, justru dirinya sendiri yang sering mendapatkan pelajaran.

Ia tidak selalu merasa sebagai pihak yang datang membawa jawaban. Ada kalanya, pengalaman dan kisah orang-orang yang didampinginya justru membuatnya kembali merenungkan nilai-nilai yang selama ini ia yakini.

“Saya sebenarnya mendapatkan pelajaran dari mereka, dan bukan mereka yang mendapatkan pelayanan, tapi saya yang mendapatkan pelayanan. Kemudian saya merasa di dalam Al-Qur’an dan Rasulullah disebutkan seperti ini.”

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa mendampingi orang lain tidak selalu berarti berada pada posisi yang lebih tahu. Ada proses saling belajar yang terjadi ketika seseorang bersedia mendengarkan pengalaman hidup orang lain dengan tulus.

Bagi Pudak, profesi chaplain akhirnya menjadi ruang untuk mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan sekaligus merefleksikan kembali ajaran Islam yang ia yakini.

Di tengah masyarakat yang semakin beragam, pengalaman tersebut memberikan satu pelajaran sederhana: perbedaan keyakinan tidak harus menjadi penghalang untuk hadir dan berbuat baik bagi sesama.

Terkadang seseorang tidak membutuhkan ceramah atau jawaban panjang. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia duduk bersama, mendengarkan tanpa menghakimi, dan menemani mereka melewati masa yang sulit.

Dengarkan kisah lengkap Pudak Nayati tentang pengalaman menjadi Muslim chaplain dan mendampingi orang dari berbagai latar belakang agama dalam Podcast Serambi Tengah Episode 1 di sini.

Tags:
  • Share: