Search Now!
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us
Contact Info
Phone +
Location
Follow Us

Hari Perdamaian Internasional: Merawat Damai di Tengah Perbedaan

Direktorat Media NUO
Authored by
Direktorat Media NUO
Date Released
22 Sep 2026, 09:22
Images

Setiap 21 September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional (International Day of Peace). Hari ini menjadi momentum untuk kembali mengingat pentingnya perdamaian, baik dalam hubungan antarnegara maupun dalam kehidupan masyarakat.

Namun, peringatan Hari Perdamaian Internasional bukan berarti dunia telah terbebas dari konflik. Justru, keberadaan hari ini lahir dari kesadaran bahwa perdamaian membutuhkan upaya yang terus dijaga. Perang, kekerasan, polarisasi, ketidakadilan, hingga krisis kemanusiaan masih menjadi tantangan yang dihadapi masyarakat dunia.

Lantas, bagaimana sejarah Hari Perdamaian Internasional? Mengapa PBB menetapkan 21 September sebagai hari untuk memperkuat cita-cita perdamaian dunia? Dan apa makna perdamaian yang sebenarnya? Mari kita telusuri jawabannya dalam artikel ini.

Ditetapkan Sejak 1982

Gagasan mengenai sebuah hari khusus untuk memperkuat perdamaian dunia mulai mendapatkan bentuk di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada awal 1980-an. Pada 30 November 1981, Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 36/67 yang menetapkan hari pembukaan sidang reguler Majelis Umum sebagai International Day of Peace. 

Saat itu, hari perdamaian belum memiliki tanggal tetap. Peringatan dilaksanakan pada Selasa ketiga bulan September, bertepatan dengan pembukaan sidang tahunan Majelis Umum PBB.

Setahun kemudian, pada September 1982, Hari Perdamaian Internasional untuk pertama kalinya diperingati. Sejak saat itu, momentum tersebut menjadi ruang bagi negara-negara, organisasi, dan masyarakat sipil untuk memperkuat komitmen terhadap perdamaian serta meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kehidupan yang bebas dari kekerasan.

Pada tahap awal, penetapan Hari Perdamaian lebih banyak berfungsi sebagai momentum untuk mengingat dan memperkuat cita-cita perdamaian, baik di dalam maupun antarnegara dan masyarakat. Namun, perjalanan sejarah menunjukkan bahwa perdamaian membutuhkan lebih dari sekadar peringatan tahunan.

Seruan untuk Menghentikan Kekerasan

Perubahan penting terjadi pada 2001. Majelis Umum PBB mengadopsi Resolusi 55/282, tepatnya pada 7 September 2001. Melalui resolusi tersebut, 21 September ditetapkan sebagai tanggal tetap Hari Perdamaian Internasional, mulai diberlakukan pada sidang ke-57 Majelis Umum PBB.

Tidak hanya menetapkan tanggal, resolusi tersebut juga memberikan makna yang lebih konkret. 21 September ditetapkan sebagai hari gencatan senjata dan tanpa kekerasan (global ceasefire and non-violence), dengan mengundang negara-negara dan masyarakat dunia untuk menghentikan permusuhan selama hari tersebut.

Dengan demikian, Hari Perdamaian Internasional bukan sekadar peringatan simbolis. Ada ajakan untuk menghadirkan perdamaian dalam tindakan nyata, termasuk dengan menghentikan kekerasan dan menciptakan ruang bagi dialog.

PBB juga mendorong peringatan ini melalui pendidikan dan peningkatan kesadaran publik mengenai perdamaian. Artinya, membangun perdamaian tidak hanya menjadi urusan pemerintah atau pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. Masyarakat luas juga memiliki ruang untuk mengambil bagian.

Kenapa Konflik Belum Usai?

Lalu, apakah dunia benar-benar telah damai ketika Hari Perdamaian Internasional diperingati setiap tahun? Jawabannya dapat dilihat dari makna dasar peringatan tersebut. Hari Perdamaian Internasional tidak dibuat karena dunia sudah bebas dari perang, melainkan ini merupakan cita-cita yang terus perlu diperjuangkan.

Bahkan dalam penjelasan PBB, perdamaian tidak hanya berkaitan dengan berhentinya perang. Berbagai persoalan seperti kemiskinan, ketimpangan, diskriminasi, dan ketidakadilan juga dapat menjadi faktor yang mendorong kekerasan dan konflik. 

Di sinilah Hari Perdamaian Internasional memiliki makna yang lebih luas. Perdamaian bukan hanya keadaan ketika tidak ada suara senjata. Perdamaian juga berkaitan dengan bagaimana manusia memperlakukan manusia lainnya.

Sebuah masyarakat dapat terlihat tenang, tetapi masih menyimpan persoalan ketika perbedaan menjadi alasan untuk saling menyingkirkan, ketika kekerasan dianggap sebagai jalan keluar, atau ketika kelompok tertentu merasa tidak memiliki ruang yang sama untuk hidup dengan aman.

Karena itu, perdamaian perlu dibangun mulai dari ruang yang paling dekat dengan kehidupan manusia. Mulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, hingga ruang digital.

Menuju Kehidupan yang Lebih Damai

Kesepakatan politik dan gencatan senjata memang penting. Namun, perdamaian yang bertahan lama membutuhkan sesuatu yang lebih dalam, yaitu kesediaan manusia untuk melihat pihak lain sebagai sesama manusia.

Dalam konteks inilah gagasan tentang perdamaian tidak bisa dilepaskan dari nilai kemanusiaan. Perbedaan agama, suku, budaya, pandangan, maupun latar belakang tidak semestinya menghilangkan penghormatan terhadap martabat manusia.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA, menekankan:
“Perdamaian sejati tidak lahir hanya dari kesepakatan formal, tetapi juga dari kesadaran moral bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan yang memiliki martabat dan hak yang sama untuk hidup secara damai.”

Pandangan tersebut menempatkan perdamaian bukan hanya sebagai hasil dari perjanjian antarpihak, tetapi juga sebagai sikap yang tumbuh dalam diri manusia.

Kesadaran moral membuat seseorang mampu menahan diri ketika berhadapan dengan perbedaan. Ia tidak mudah menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan, membenci, atau melakukan kekerasan. Sebaliknya, perbedaan dapat menjadi ruang untuk belajar memahami kehidupan orang lain.

Selamat Hari Perdamaian Internasional, 21 September 2026.

Semoga perdamaian tidak berhenti sebagai cita-cita yang diperingati setiap tahun, tetapi tumbuh menjadi kesadaran dan kebiasaan yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Tags:
  • Share: